BMKG : Abu Gunung Kelud Tak Pengaruhi Cuaca Bogor

detak.co.id - BOGOR, Badan Meteorologi Kilmatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Dramaga menegaskan, kendati adanya peningkatan aktivitas Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur, tidak mempengaruhi kondisi cuaca atau iklim untuk wilayah Bogor dan sekitarnya.

"Meski abu vulkanik dari letusan Gunung Kelud di Jawa Timur, dampaknya hingga ke wilayah Bogor, namun itu tidak mempengaruhi kondisi cuaca yang saat ini terjadi di wilayah Bogor," ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Dramaga, Dedi Sucahyono, Minggu (16/02).

Ia mengatakan, meski hingga saat ini tidak ada dampak yang terlalu signifikan terhadap kondisi cuaca dan iklim di wilayah Bogor dan sekitarnya, namun pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap kondisi yang diakibatkan oleh letusan Gunung Kelud.

"Namun kondisi ini tetap akan terus dipantau oleh petugas kami melalui satelit, apakah abu vulkanik tersebut bentuk awanya juga berpotensi mempengaruhi cuaca di wilayah Bogor," kata dia.

Dedi mengatakan, memang berdasarkan laporan dan pemantauan di lapangan bahkan di satelit abu vulkanik dari letusan Gunung Krakatau di Kediri, Jawa Timur, sudah masuk wilayah Bogor, terutama di daerah, Puncak, Dramaga, Kota Bogor dan beberapa daerah lainya, meksi tidak setebal serangan abu yang terjadi di wilayah Bandung.

"Kami memperirakan debu tersebut berasal dari angin pada ketinggian 7 kilomter atau sekitar 20 ribu kaki yang berhembus dari arah tenggara ke Barat Laut, dengan membawa debu vulkanis dari Solo ke Jogja, Bandung, Cianjur lalu sampai di Bogor," terangnya.

Berdasarkan pantauan satelit yang dimiliki oleh Stasiun Klimatologi Dramaga, memperkirakan kondisi cuaca untuk wilayah Bogor dan sekitarnya berawan, bahkan kondisi ini sudah terjadi dalam kuruh tiga hari ke belakang dan bertahan hingga dua hari ke depan.

"Untuk saat ini kondisi cuaca masih tetap berawan akan terjadi hingga malam nanti, bahkan diperkirakan kondisi ini akan terus sama hingga dua hari ke depan," pungkasnya.

Sementara itu, berdasarkan hasil dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) yang melakukan pemantauan kualitas udara sejak kemarin. Dikatakan Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas KLH, DR. Henry Bastaman, masih melakukan pengukuran manual di sekitar wilayah bencann gunung kelud.

"Dampak dari letusan kelud masih mengkhawatirkan, untuk itu kepada masyarakat dikawasan yang terkena hujan abu untuk tidak keluar rumah terlebih dahulu," ungkapnya.

Jikapun, kalau mau keluar rumah untuk menggunakan selain masker, juga disarankan untuk menggunakan pelindung kepala untuk mencegah debu mengenai daerah kepala dan menggunakan kaca mata untuk melindungi mata, serta minum air putih yang cukup, paling tidak untuk 72 jam (3-4 liter per orang per hari).

Karena berdasarkan pengukuran indikasi kualitas udara masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Pengujian kualitas udara menggunakan parameter PM 2.5 berdasarkan sampel data dari Surabaya, Semarang, DI Yogyakarta dan Bandung sedang dalam proses pengujian di laboratorium Pusarpedal dan Batan. (rul)

Rate this item
(0 votes)
Go to top