pdam tirta

Mementingkan Diri Sendiri (Bagian II)

Selang beberapa menit, datang kader Partai Demokrat Wahyu Sunyoto dan PKS Etty. Mereka singgah dan ikut nibrung di warung Arab.


"Dari mana?"


"Rumah Pak RW. Minta izin untuk selenggarakan sosialisasi. Kebetulan ketemu Etty di jalan, aku ajak sekalian kokouw-kokouw di sini."


Begitu duduk, Mas Nyoto langsung pesan kopi. Tidak ketinggalan Mbak Etty juga pesan es teh.


"Rab bikini kopi hitam tiga dan es teh satu."


"Siap Pak."


Aku jadi teringat cerita Cosmas Batubara, Abdul Gafur, dan lain-lain. Saat menjadi aktivis pada 60-an, warung kopi di dekat kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, jadi 'pangkalan' diskusi jalanan. Mereka membahas soal kebijakan pemerintahan Rezim Orde Lama.


Seperti aku dan Derio, ditambah Mas Nyoto dan Mbak Etty.


"Pak RW setujui kegiatan sosialisasi caleg Demokrat, Mas."


"Alhamdulillah."


"Bagi-bagi ampow atau sembako entar Mas."


"Enggak tahu."


Memang sangat dirasakan tidak pernah ada upaya menjelang pemilu, kalangan partai politik melakukan pencerdasan kepada rakyat (baca: konstituen) melalui pendidikan politik. Dengan demikian, rakyat mampu mengapresiasi dan memaknai proses demokrasi dalam bingkai pembangunan karakter bangsa.


Bisa jadi, konsolidasi yang dilakukan partai politik peserta pemilu hanya sekadar politik giring kerbau. Di mana rakyat hanya dijadikan kuda tunggang untuk kepentingan lima tahunan parpol merebut kekuasaan. Sesungguhnya rakyat sudah bosan terhadap praktik politik model-model mobilisasi tersebut.


"Mas, kok tidak diselenggarakan sarasehan saja sosialisasi caleg. Kenapa aksinya hanya untuk pencitraan."


"Maunya dia begitu. Yaa, ikut aja deh."


Benar memang kata Pak Bud. Para elit partai politik tidak pernah mendapat pendidikan politik secara komperehensif. Akibatnya, sangat tidak mengherankan akhirnya rakyat ibarat kuda tunggangan elit-elit yang berkelompok di partai politik. Apalagi sikap rakyat memble dan suara mereka mudah 'dibeli' dengan harga murah.


"Benar mas Arman, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan politik bagi rakyat penting agar mereka melek politik."


Mbak Hindun menimpali dan tidak mau kalah.


"Justru pelaksanaan konsolidasi menjadi penting dan strategis bagi seluruh partai politik peserta pemilu sebagai alat ukur sejauhmana mesin politik telah bekerja menjelang pesta demokrasi 2014. Tidak hanya itu, partai politik peserta pemilu bisa juga membaca bagaimana perkiraan keadaan (kirka) sementara perolehan suara."


Derio mengingatkan Mas Nyoto agar celag Demokrat itu cenderung mengejawantahkan politik giring kerbau. Bahkan, para pengurus maupun fungsionaris partai politik mana pun termasuk Demokrat maupun PKS, dari pusat hingga daerah menggeliat menyebar 'virus' juga 'racun' kepada rakyat, baik sebagai kader, simpatisan maupun donator janji-janji politik. Sehingga komunikasi politik yang tercaipta bisa dipastikan tidak mempunyai roh pendidikan politik yang mendorong rakyat makin cerdas menentukan dan menggunakan hak suaranya.


"Sangat lucu bila artikulasi demokrasi semata-mata sekadar menyalurkan pilihan, Mas Nyoto an Mbak Hindun.


"Juga sangat naif proses demokrasi hanya dihargai puluhan ribu. Padahal pesta demokrasi menelan biaya triliunan rupiah. Jadi kesadaran dari elit-elit politik sangat rendah dan terindikasi adanya proses pembodohan dan pendangkalan nalar rakyat tentang demokrasi."


Siapa yang bertanggung jawab bila rakyat sekadar kuda tunggangan elit politik?


Aku sampaikan pula pandangan bahwa seperti Pemilu Presiden sebelumnya, mobilisasi massa alias politik giring kerbau tetap menjadi tren dan gaya partai politik pada Pemilu Presiden mendatang. Seolah massa yang berjubel di arena kampanye terbuka menjadi indikator dukungan kuat bagi partai politik atau capres bersangkutan. Padahal sikap rakyat ambivalen.


Lebih lucu, bahkan munafik adalah ceminan sikap partai politik melalui jargon-jargon yang menyuarakan pemberantasan korupsi. Karena hasil survei membuktikan bahwa justru elit-elit politi mengalami defisit sosial, di mana banyak elit politik terlibat korupsi.


"Entah sadar politik, melek demokrasi atau memang sudah skeptis terhadap perilaku elit politik. Massa mengambang dan golput tetap menjadi mewarnai pemilu."


Pendek kata, Pemilu 2014 akan tersekat-sekat ambisi sesaat partai politik sekadar memperebutkan kekuasaan, bukan membawa perubahan yang hakiki. Yang berubah hanya pemimpinnya, bukan kesejahteraan rakyat.


Sebagaimana diumumkan KPU bahwa tahapan kampanye dimulai 11 Januari 2013 – 5 April 2014 bahwa partai politik menyelenggarakan kampanye Pemilu Legislatif. Momentum ini menjadi sangat strategis untuk menjawab tuntutan dan harapan rakyat.


Mungkin Mas Nyoyo lupa bahwa peradaban yang sejati, bahagia dan bermoral tidak bisa dibangun di atas basis lingkungan material yang jahat. Kelaparan, penyakit, kebodohan serta kekumuhan tidak hanya bertentangan dengan keyakinan kita bahwa terdapat roh Tuhan dalam setiap orang.


"Semua itu merupakan penyebab penderitaan, sengketa, dan perang. Kita harus menciptakan lingkungan fisik yang manusiawi bagi keadilan dan kehormatan, Mas."


Aku memetik sepenggal pendapat Sir Stafford Crippa (Toward Christian Democracy) itu cukup dalam pengertiannya. Selain itu, ada pesan moral, baik secara tersirat maupun tersurat.


"jadi memahami kearifan lokal otomatis manusia menggunakan perasaan dan akal pikiran secara positif. Pikiran dan perasaan kita dikelola untuk menstimulus jiwa dan raga dengan bijak. Bahkan, dalam memperlakukan alam sekitar termasuk seluruh penghuninya, tempat kita menumpang hidup."

Rate this item
(0 votes)
Go to top