pdam tirta

Golput 'Pembangkangan' Politik

detaktangsel.com - CELOTEH, Sejak libur semesteran, aku hampir tidak pernah temui Yanti. Jangan meneleponnya, BB maupun sms tidak juga. Ada rasa kangen ingin ketemu atau minimal sms.

Entahlah, apakah perasaan Yanti juga kangen kepadaku? Sungguh selama dua minggu libur kuliah, aku bersama teman-teman sesama aktivis prodemokrasi sibuk konsolidasi menjelang menghadapi pemilu, April 2014. Selain diskusi, juga sosialisasikan program perlawanan terhadap sistem politik nasional yang cenderung melahirkan politisi busuk.

"Wahai pujaanku, Yanti. Adakah kerinduan di hatimu."

"Yan, aku benar-benar kangen."

Aku benar-benar mabuk kepayang. Beban pikiran dan batinku hanyut dan larut dalam pesona Yanti. Di saat pandangi foto Yanti yang kujadikan wallpaper HP, Suprapto 'Wedus Gimbal' Pronowo nonggol di kamar bak Siluman Monyet. Tanpa suara, tahu-tahu ada di sebelahku.

"Bayangi dan mandangi foto siapa, Lek."

"Eeh kamu toh. Dasar Wedus Gimbal, bikin orang kaget aja."

"He he he..............."

Prapto baru pulang dari belayar. Keponakanku ini bekerja di kapal tengker milik perusahaan minyak asal Belanda. Selain membawakan oleh-oleh sepatu bermerek, juga menanyakan fenomena politik menjelang pemilu.

"Lek, aku undu di google, ngikuti di facebook, dan twitter, kalangan lembaga survei, pengamat, dan aktivis kok memrediksi angka golput tinggi pada Pemilu 2014. Ono opo tenan."

"Ikuh isu ne. Pasti ne eksistensi golput bukan fenomena baru. Ibarat lagu lawas dirilis anyar."

"Ora ngono toh Lek. Pasti ne ono goro-goro sing dadi penyebab golput tetep eksis dan dadi pokok bahasan."

"Wele-wele, awakmu ngeyel tenan."

Agar Prapto tidak menyoal golput, aku serahkan klipping koran. Konon, dikabarkan fenomena golput sudah terjadi sejak diselenggarakan pemilu pertama pada 1955. Karena ketidaktahuan atau kurangnya informasi tentang penyelenggaraan pemilu. Biasanya mereka tidak datang ke tempat pemungutan suara. Sedangkan di era Orde Baru, golput lebih diartikan sebagai gerakan moral untuk memrotes penerapan sistem pemilu yang tidak demokratis oleh penguasa saat itu.

Sejak era reformasi tren golput cenderung meningkat. Pemilu 1999 angka golput mencapai 6,4%, Pemilu 2004 (15,9%), dan Pemilu 2009 (29,1%). Bahkan, diprediksi angka golput meningkat lagi bisa mencapai 35%-40% pada Pemilu 2014.

Nah sekarang, apa penyebab sehingga seseorang menjadi golput? Pertama golput teknis. Karena berhalangan hadir ke tempat pemungutan suara atau keliru menyoblos sehingga suaranya dinyatakan tidak sah. Kedua golput teknis-politis. Mereka tidak terdaftar sebagai pemilih karena kesalahan dirinya atau pihak lain.

Ketiga golput politis. Mereka merasa tidak punya pilihan dari kandidat yang tersedia atau tidak percaya bahwa pemilu akan membawa perubahan dan perbaikan. Keempat golput ideologis. Mereka tidak percaya pada mekanisme demokrasi dan tidak mau terlibat di dalamnya entah karena alasan fundamentalisme agama atau alasan politik-ideologi lain.

"Hanya karena sebab-sebab lain itulah yang menjadikan mereka menjatuhkan pilihan untuk golput."

"Kamu enggak usah ikut-ikut jadi golput!"

"Iyo Lek. Aku hanya pingin tahu saja. Tetapi adanya golput berarti sebagai kegagalan demokrasi."

"Golput melanggar hukum tidak, Lek?"

"Dari segi peraturan, golput merupakan hak setiap individu. Sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Namun, eksistensi golput tetap menjadi masalah besar bangsa Indonesia dan memandang golput sebagai kegagalan sosialisasi pemerintah, khususnya partai politik soal pemilu."

Bak pakar politik dan hukum, aku memaparkan golput dan permasalahanya kepada Prapto. Aku jadi lupa kalau hatiku sedang merindukan Yanti.

"Jadi kegagalan tersebut bukan hanya dari segi pendidikan politik yang harusnya menjadi kewajiban partai politik. Juga kegagalan dalam hal administratif, khususnya pendataan penduduk."

"Mekanisme demokrasi perlu dikaji ulang. Karena angka golput sama sekali tidak mempengaruhi legitimasi pemimpin terpilih. Hanya saja golput akan berpengaruh pada position power dari pemimpin tersebut."

Aku enggak tahu persis alasannya. Ada seorang pengamat justru menganggap sistem pemilihan secara langsung merupakan sebuah kemunduran. Sistem pemilihan secara langsung dinilai sebagai sistem demokrasi pada zaman Romawi. Kenyataannya, negara-negara maju telah meninggalkan sistem ini dan beralih ke sistem demokrasi perwakilan.

"Golput bukan hanya kegagalan demokrasi, melainkan kegagalan dalam manajemen pemilu itu sendiri. Selain itu, angka golput yang tinggi juga membuktikan adanya kegagalan dalam manajemen partai politik dan manajemen perpolitikan di Indonesia."

Pendapat pakar itu menambah wawasanku terkait masalah konstelasi politik nasional. Misalnya, penyebab golput memiliki variabel yang tidak homogen. Ada banyak alasan mengapa seseorang memilih golput, di luar masalah administrasi seperti pendataan, bisa jadi masalah ideologi. Bahwa adanya kebosanan publik untuk berpartisipasi dalam pemilu juga harus dicermati.

"Sesungguhnya masalah golput tidak perlu dibesar-besarkan. Yang pasti, adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap figur calon pemimpin sebagai salah satu faktor penyebab golput. Bahkan, golput merupakan perilaku yang timbul akibat adanya kekecewaan."

Memang dikhawatirkan angka golput akan membengkak pada Pemilu 2014. Kalau mau jujur, saat politik menjadi jamak dan orang boleh bicara tanpa sensor, golput menjadi sesuatu yang aneh. Golput saat ini terlihat sebagai suara yang malas, bukan lagi teriak perlawanan.

Di era 1970-an, golput adalah sebuah sikap politik yang garang. Sebuah perlawanan terhadap sistem kekuasaan hegemonik yang telanjur mapan. Arief Budiman, salah satu pelopor golput, mengenang sikap itu sebagai sisa perlawanan terhadap sistem politik yang tak menjanjikan alternatif pilihan.

Sikap ini menjadi perlawanan terhadap Golkar, partai yang mengoptimalkan jalur birokrasi dan angkatan bersenjata. Sehingga selalu menjadi pemenang setiap kali hajatan berlabel pesta demokrasi digelar setiap lima tahun.

Sementara Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) hanyalah pelengkap yang sama sekali tak mempengaruhi alur cerita. Semua diam, semua seragam.

Golput saat itu adalah bentuk pembangkangan yang membuat pemimpin tak bisa bertepuk dada dan menunjuk diri sebagai penguasa yang dicintai warga. Jika demo di jalanan dianggap subversif.

"Kini setelah rezim Soeharto terjungkal, di siang yang terik enam tahun lalu, masihkah golput punya makna?"

"Yo Lek, yo!"

"Memang perubahan harus dibuat meski harus melewati proses yang menyakitkan."

"Biar menyakitkan gerakan golput tetap kuat. Karena jutaan pemilih harus memilih satu dari lima pasangan kandidat presiden dan wakil presiden yang memiliki performa mengecewakan. Hampir semua kandidat memiliki ikatan dengan Orde Baru. Bahkan, masalah kemanusiaan."

"Aku enggak mau beberkan satu per satu borok kandidat presiden. Begitu pula calon legislatif notabene hanya pandai obral janji."

"kalau begitu ada banyak motif di balik sikap untuk tidak menggunakan hak pilih ini. karena kecelakaan murni, apatisme politik atau memang melakukannya dengan kesadaran politik penuh. Namun motif terakhir inilah yang mulai dikhawatirkan oleh para politikus."

"Pandanganmu benar 100%. Makanya, para kandidat dan elit partai politik khawatir dan mengingatkan agar golput tak terkristalisasi menjadi sebuah pembangkangan politik."

Aku sudah lelah. Aku kenyang membaca dan menyoal golput. Namun, tetap isu golput tetap kuat seiring proses perjalanan bangsa ini menyonsong Pemilu 2014.

Anekdot politik enggak nyoblos, enggak dosa kok, ogah aaah nyoblos, serta ada duit, kucoblos gambar dan partaimu tetap menggelinding dan hidup di tengah masyarakat.
Kubaringkan tubuh di kasur dan kubayangkan kembali kehadiran Yanti di hatiku. Tanpa kuminta meninggalkanku sendirian di kamar, keponakanku nyelonong keluar.

"Ya Allah, ridhoi hasrat suci hamba mencintai Yanti!"

Rate this item
(0 votes)
Go to top