Selling Indonesian by The Rupiah

detaktangsel.com - SEKETIKA, SUATU pagi hari, Sabtu, iseng jalan-jalan ke Pasar Parung. Selain pemandangan arus lalulintas macet, genangan air di mana-mana sisa air hujan yang turun semalam. Entah kenapa kaki melangkah sampai blusukan ke pasar-pasar.


Enggak ada niat mau belanja sembako, dedek atau por untuk empan ayam. Tahu-tahu, aku naik angkot 106, jurusan Lebak Bulus-Parung.


"Bogor, Bogor. Kurang satu, berangkat."
"Seeng, Bang. Ayo Seeng!"


Teriakan timer angkot itu sangat kencang. Enggak kalah, penjual dvd memutar musik juga sangat kencang. Belum lagi asongan menjajahkan dagangannya, ikut-ikutan teriak.


Inikah miniatur atau potret kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Serba semrawut mirip suara-suara politisi yang berdebat di panggung demokrasi. Ada yang teriak dari belakang panggung. Ada pula di panggung depan, sebelah kiri maupun kanan.


Mereka juga sama-sama cari muatan dan menjajahkan komoditi pencitraan. Coba saksikan perdebatan di televisi, enggak politisi, pengamat, budayawan maupun pakar hukum dan ekonomi, sama-sama berteriak, ngotot, merasa paling benar.


Teringat puluhan tahun lalu, semasa rezim Orde Baru berkuasa, ketika aku masih bekerja sebagai wakil kepala humas di sekretariat partai besar. Semasa kuasa, sok kuat, sok hebat, dan sok benar. Dasar sok ya tetap sok, merasa terhebat dan terbesar.


Karyawan bagian administrasi pun bisa main gertak, jual nama partai untuk menakuti pihak lain. Bahkan, lagaknya kayak fungsionaris partai.


Ngaku konseptor sekjen dan lainnya. Padahal kerja dia hanya ngetik surat keluar masuk. Fotocopy bahan pidato. Kalau enggak, hanya kurir antar surat keluar.


Aku jadi tahu seluk beluk dan jejak partai berpijak. Jejak politisi berpijak. Apalagi saat itu, aku sempat jadi pengurus organisasi kepemudaan hingga tiga periode. Cukuplah pengalaman dan pengetahuan soal partai, organisasi kepemudaan.


Aneh, ada temen namanya parmin. Enggak pinter-pinter banget dia, hanya pandai menjilat, tukang bawa tas 'bos' partai. Pokoknya serba menjilat kerjaannya. Sekian lama enggak ketemu, eeh begitu duduk di dewan.


"Pertanda apa ini ya Allah, ada manusia seperti itu bisa Allah ridhoi jadi wakil rakyat."


"Mohon ampunan ya Karim, nada keluhan hamba enggak sengaja bernada gugat Allah. Ampuni hamba!"


Memang terkadang tidak sadar, setiap mengelukan sesuatu selalu bersentuhan dengan Allah. Maaf juga tanpa sadar menyalahkan Allah. Seperti halnya terkejut ketika mengetahui Parmin jadi anggota DPR RI, Ketua Komisi lagi.

Pikir-pikir panteslah negeri ini tidak bisa bergerak mengarah perubahan. Namanya bergeser pun juga enggak mampu.


"Si tukang riba disebut lintah darat,si hidung belang disebut buaya darat. Pedagang banyak hutang, itulah konglomerat. Mereka yang berhutang, yang bayar lha kok rakyat?"


Mas Rendra moga amal ibadahnya diterima Allah. Juga aku harapkan, Mas Rendra bisa bacakan sajak-sajak di depan Allah, Rasulullah, dan punggawa Allah yang lain. Karena dari sajak-sajak Masa Rendra terungkap kebiasaan dan kemampuan pemimpin bangsa ini. Mas Rendra juga mengalami hal serupa yang kualami sekarang.


Sungguh penggalan syair dari sajak Mas Rendra itu menambah wawasanku tentang kebiasaan konglomerat, politisi, dan elit-elit birokrasi menjual 'Indonesia' hanya dengan bandrol rupiah.


"Kura-kura dalam perahu, buaya darat di dalam sedan. Wakil rakyat jangan ditiru, korupsinya edan-edanan. Berakit-rakit ke hulu, berenangnya kapan-kapan. Maling kecil sakit melulu, maling besar dimuliakan."


"Ya Allah, tokoh sepinter, setajam, secerdas, dan sebaik Mas Rendra kok Allah panggil pulang. Padahal hamba butuh kehadirannya, pandangannya, kritikannya, protesnya. Bila negeri ada sosok seperti Mas Rendra, Gus Dur, Pak Harto, enak. Semua rakyat dibikin tidak bisa tidur pulas."


Sore menjelang malam mingguan, aku habiskan waktu hanya untuk membaca, membaca, membaca. Ya membaca buku, membaca perilaku politisi, juga membaca tetangga ngeropiin apa enggak jelas. Pastinya kongkouw-kongkouw di masjid.


Di sisi lain, teman-teman menyibukkan diri gebrakin ayam. Di lain sisi, keluarga Ratu Atut Chosiyah, ributin kursi kekuasaan. Dan, lainnya lagi sama. Mereka sama-sama rakus kekuasaan, rakus populeritas, rakus wanita.


"Jack, posisi di mana."
"Masih di rumah, ada apa?"
"Enggak ada acara kan. Temeni aku ya ke rumah Om Sigit."


Jack nama panggilan Jaka Pusponegoro. Enggak pernah setiap dimintai pertolongan. Sosok ini kenal sejumlah politisi. Namun, rata-rata busuk, woooh..........! Jack masa bodoh, bahkan ia memaklumi karena sebagian dari mereka enggak berbobot.


Para politisi 'kolega' Jack itu, konon, murid didiknya orangtua tiri Jack. Selain tidak suka judi, suka pula main perempuan. Ya kalau perempuan berkelas, di pinggir jalan disikat juga. Karenanya, Jack ogah-ogahan kenal.

 

"Jack, Jack, lupain dan tinggalin orang macam begitu biar wakil rakyat. Peduli amat!"
"Gue dah berpikir ke arah situ. Cara eksekusinya belum nemu."
"Gampang, cuekin tiap ketemu. Ok!"


Sampailah di rumah Om sigit. Namun, tanda-tanda kehidupan enggak ada. Sepi, senyap bercampur aduklah. Hanya sesekali terdengar suara tokek. Tanya tetangganya juga enggak ada yang tahu.


"Udah janjian, Man."
"Enggak. Sponitas aja."
"Dasar geblek elu, Man. Kebiasaan jelek enggak dibuang."
"Siapa sih Om Sigit, Man."
"Eks tetangga. Orangnya baik."


Eeeeeh begitu mau balik kanan, gerak. Tahu-tahu Om Sigit baru turun dari ojek. Tanpa istri dan anak. Raut mukanya menunjukkan kecapekan yang sangat.


"Masuk Man, pintu pagar enggak dikunci."
"Ya, emang dari mana Om!"
"Antar tante pulang kampung. Kan si vivie libur sekolah."
"Kabar ibu sehat kamu sehat?"
"Alhamdulillah, sehat. Titip salam buat Om."
"Waalaikum salam."


Tidak seperti biasanya, Om Sigit dengan wajah cerah. Biasanya, kusut dan ruwet. Merokok putus nyambung.


"Man bikin sendiri minum kopi atau teh. Om mandi dulu."
"Kopi atau teh, Jack."
"Kopi. Jangan manis-manis."


Adalah mantan anak orang kaya dan pejabat yang sangat dekat rezim Orde Baru dan Reformasi. Tanahnya ratusan hektar. Mobilnya banyak, cuma satu istrinya. Sungguh mulai hatinya. Om Sigit tidak suka kemewahan, apalagi sampai pamer harta kekayaan. Tidak ada cerita tentang kejelekan Om Sigit di perumahan komplek Taman Pondok Cabe.


"Teman kamu udah diseduhi kopi, Man."
"Udah Om!"
"Ada perlu apa, Man."
"Om kenalin teman Arman, Jack namanya."
"Silaturahmi, Om. Udah lama kan Arman enggak main ke sini."
"Ya. Om pingin main ke sana. Eh kamu tahu-tahu dah nyelonong ke sini."


Bertiga ngobrol hidup. Satu sama lainnya saling mengisi. Sehingga obrolan itu mirip diskusi. Hanya enggak ada pesertanya.


"Benar, sebagian besar politisi sudah mengalami degradasi moral. Cenderung memupuk kekayaan meski dengan cara haram. Giliran dicemplungi ke penjara, semua teriak."


"Pejabat pemerintahan juga sama. Suka pelesiran. Saat diendus KPK, pura-pura sakit."


Empat jam ngobrol dengan Om Sigit. Dari dia, banyak cerita tentang kalangan pejabat saat itu menjual aset negara. Tetapi menjual dengan bandrol rupiah. Sedangkan membeli kembali dengan bandrol dolar.


Gelondongan kayu jati dihanyut sampai tengah dan menyeberang lautan hingga lintas negara. BBM mengalir ke mana-mana. Banyak kebocoran yang sangat ditoleran bila tidak sampai merembes.


Belum lagi, demi memancing investor, pemerintah mengobral ijin. Namun, tidak pernah dibahas dan ditetapkan standar upah yang maksimum. Sangat tidak mengherankan kondisi karyawan pabrik sangat tidak manusiawi. Bila ada tuntutan, pemerintah ada di depan dan belakang manajemen pabrik.


Negeri tidak harganya lagi kecuali dibadrol dengan rupiah. Jangan coba-coba memasang badrol dolar, apalagi euro, semua kabur. Nah, cukup mengherankan negeri ini paling suka belanjakan dolar untuk membeli sesuatu.


"Jalan pikiran mu ke mana-mana, Man."
"Bukan begitu Jack. Tanya Om Sigit."
"Itu kenyataannya, Jack."
"Buktinya adem ayem pemimpin kita, Om Sigit, Man."
"Pemerintah benar-benar jaga suasana psikologis rakyat. Kalau sampai rakyat galau, stres, dan depresi, bumi negeri kita bisa gonjang ganjing."


Jam dinding menunjukkan pukul 09.13, aku langsung mohon pamit kepada Om Sigit. Sengaja dari rumah jalan kaki menuju jalan raya. Sepanjang binatang malam masih menghiasi perumahan Tegal Sari Indah. Suara jangkrik, kodok, dan burung malam, bergantian. Tetapi tidak seperti musik Pink Floyd atau Genesis.

Rate this item
(0 votes)
Go to top