Kehadiranmu Membuatku Menjadi.............

detaktangsel.com - SEKETIKA CELOTEH, Malam Minggu, 24 Februari 2014, tidak mengira Hendrijanti hadir. Detak jantungku tak karuan. Antara percaya dan tidak percaya. Perempuan yang kutunggu dan kuidolakan selama ini, tiba-tiba muncul persis ketika aku sedang galau memikirkan dia.

"Hei, Tri!" sapanya begitu ketemu.
"Hei Tik, apa kabar," jawabku dengan nada pelan.

Aku biasa memanggil dia dengan sebutan Tik, kepanjangan dari Titik. Nama ini akrab dengan ketimbang memanggil Hendrijanti.

Aku terkenang kembali masa lalu ketika berduaan bersama perempuan ini. Sungguh aku sangat bahagia. Biar sejuta bedil menodong, aku tidak akan lari meninggal gadisku ini. Aku makin percaya diri dan tidak takut menghadapi marabahaya apapun.

"Aku kok gak dipersilahkan masuk sih, Tri. Apa sengaja disuruh berdiri di teras rumahmu," ujarnya.

"Ma...maaf. Monggo putri ayu, masuk ke istanaku."

Senyumnya, tertawanya, dan gayanya nyaris tidak ada perubahan pada diri kekasih hatiku ini. Sejak di bangku SMA Negeri 7 Surabaya hingga sekarang, Titik ya Titik.

Aku jadi salah tingkah di hadapannya. Entah kenapa jadi begini. Padahal tidak dibuat-buat untuk cari perhatian.

"Mau minum apa, Tik."
"Apa aja boleh. Yang penting, oke!"
"Bagaimana kabarnya anak-anak. Apa sudah sehat semua?" tanyaku.
"Alhamdulillah, Tri."
"Kamu sendiri bagaimana."
"Ya, seperti yang kamu lihat."
"Aku tidak percaya kamu menyambangi di tengah perasaan ini sedang merindukanmu. Sungguh aku bahagia banget, Tik."

Aku hanya menyuguhkan air es dan roti bakar buat Titik. Pujaanku tidak menampiknya. Ia mencicipi dengan nikmat.

Sambil kuputar lagu kesukaannya, Yesterday milik The Beatles. Aku bersama Titik hanyut meresapi suara Paul Mc Catney, mengenang masa-masa indah yang telah berlalu.

Di tengah membedah dan merajut kembali kenangan indah itu, datang si Rio Bakteri, anak Pamulang. Tanpa salam, langsung masuk dia teriak memanggilku.

"Pak, saya minta izin tidak ngapload malam ini. Saya mau nagih uang pupuk," katanya dengan muka asem.

"Mau nagih apa main game online, Rio."
"Cius, Pak!" sambil cengar cengir.
"Jangan kamu jujur, bohong aja aku percaya."

Rio termasuk remaja Alay-Alay. Cara ngomongnya kacau sekali. Namanya juga Alay-Alay. Kalau enggak kelayapan, dia nongkrong di warnet sekadar menghabiskan waktu untuk main game online.

"Ya, iya Rio. Entar aku sampaikan sama Pak Dani kalau kamu tidak masuk,"kataku.

Begitu aku izinkan, Rio terus nancap gas. Ia pergi bersama temannya yang si Widya.

Selepas Rio meninggalkan rumahku, Titik mendekatiku. Ternyata dia juga merasakan kerinduanku.

"Indah....!"

"Tik, sumpah mampus aku masih sayang dan mencintaimu. Demi Allah, Alquran, dan Rasulullah, aku enggak bohong. Aku mendambakanmu."

"Kalau bohong, aku ikhlas semua amal ibadahku tidak diterima Allah. Bila perlu, aku juga ikhlas diceplungi ke neraka."

Tampak Titik diam. Ia tidak menjawab sepenggal kalimat pun. Tapi, aku tahu, Titik juga merasakan apa yang kurasakan malam ini.

Titik sangat memahami apa yang kuungkapkan. Ibarat buram kaca jendela. Namun, tidak semuram masa laluku.

Aku masih menunggu jawaban dari ungkapan niat baikku. Apapun yang terjadi, Titik tetap putih di hadapanku.

"Tik, aku selalu ingin dekat dengan mu menempuh jalan hidup. Relakan tangan menghapus bayangan gelap itu," bisikku.

"Udahlah Tri. Serahkan ama Allah. Kun Faya Kun aja Tri," jawabnya.
"Aku juga masih menyayangi dan mencintaimu."

Usai memberikan jawaban singkat itu, Titik pamitan. Ia mau balik ke Kali Malang, Jakarta Timur, tempat tantenya.
Kutawarkan mengantarnya. Namun, dia menampiknya.

"Enggak usah. Tolong cariin taksi aja. Aku puas udah ketemu kamu, Tri, sebelum ajal menjemputku," tuturnya dengan mimik mau menangis.
Pertemuan singkat ini telah membuatku makin galau. Betapa tidak. Rinduku padanya masih memasung batin.

Sebelum naik, Titik menciumku dengan mesra sambil membisikkan satu kata.
"Aku juga tetap menunggumu," tuturnya.
Kupandang taksi yang menghantar kekasih hatiku pergi hingga menghilang. Aku kembali terbelenggu kesepian panjang.

Selang kepergian Titik, suara berisik datang dari pintu rumah.
"Tok, tok, tok,"
Eeeh, ternyata yang gedor pintu adalah bos Eko . Setengah sadar, aku persilakan anak asli Kalimantan ini masuk.

Baru sadar bahwasannya aku hanya bermimpi berkencan dengan Titik. Kalau Bos Eko  tidak mengendor pintu, mungkin aku masih bergelut dengan mimpi-mimpi nan indah.

"Wahai Allah, hamba mohon wujudkan mimpi indah tadi menjadi kenyataan agar hamba selalu dekat Titik dalam meraih puncak kebahagiaan."

Rate this item
(0 votes)
Go to top