Sudah Jatuh Ketiban Tangga Pula

detaktangsel.com - SEKETIKA CELOTEH, Seminggu sudah perasaan jenuh menyelimuti Oirbakteri. Pemuda yang konon bercita-cita pingin jadi ahli information teknologi. Tak kepalang tanggung, ia berencana mau kuliah di dua perguruan tinggi sekaligus.

Entah kerasukan setan dari mana, perilaku anak muda yang punya potongan rambut enggak pernah rapi ini radak males.

Anehnya giliran menjalani tugas sebagai operator, dia acapkali masuk siang. Alasannya banyak. Disuruh bokapnya bikin desain salah satu produk penyubur tanahlah. Terkadang ke percetakan.

Tahu, yang benar yang mana. Yang pasti, Oirbakteri tidak mengeluh bila duduk di depan monitor memainkan game.

"Jangan-jangan sering begadang di layar kaca game online menyebabkan matanya kusut dan rambut awut-awutan kalau sampai di kantor," keluh Kepala Dinas Transportasi Pamulang-Pondok Cabe Ghozalmis Kapoor.

Bak gayung bersambut. Rekan kerja Ghozalmis Kapoor, AEK Noto Boto pun menimpali.

"Itu pasti. Bokap dia sering cerita, begitulah kelakukan anaknya. Enggak bosan-bosanya main game online," ujarnya.

Itu bukanlah isu atau rekayasa. Oirbakteri memang pecandu game online. Sangat tidak heran bila lebih mudah mencarinya di pangkalan game online ketimbang di rumahnya.

Suatu hari, Oirbakteri ngaku serba salah. Enggak dijalani salah, dijalani salah. Gara-gara percetakan tidak mampu mencetak stiker hasil desainnya, petaka pun tiba. Biasa, diomeli bongkapnya abis-abisan.

Pusing, BT, dan galau campur aduk jadi satu menyerang otaknya. Padahal Ghozalmis Kapoor sudah memberi uang untuk makan siang, masih saja Oirbakteri raut muka kusut. Dia agak cerah ketika datang Bison, jurnalis yunior asal Depok.

Entah Bison bawa ramuan apa bisa membuat Oirbakteri cerah kembali. Bisa jadi, penyubur tanah bikinannya kalah manjur dibandingkan ramuan Bison.

"Pak, enak beli martabak nih," ujar Oirbakteri.
"Heiiiii, beli martabak!" teriakku spontan.

Mendengar teriakanku, baik Ghozalmis Kapoor maupun AEK Noto Boto, ikut berteriak.

"Oir, sini beli sana gorengan atau martabak. Cukup enggak uang ini," sahut AEK Noto Boto sambil menyerahkan selembar Rp100 ribu.

"Jangan lupa sekalian beliin rokok dan minuman kelapa dalam botol," tambahnya.

"Iya, Mas!"

Joke-joke seperti ini mewarnai ruangan kerja Oirbakteri dan AEK Noto Boto. Sementara Kepala Dinas Transportasi Pamulang-Pondok Cabe cengar-cengir mendengar teriakan lapar anak buahnya yang satu ini.

"Waduh, saya tambah gemuk kalau makan martabak manis," celetuk Bison sambil mengisap rokok.

Tidak butuh waktu terlalu lama. Ketika martabak sampai dan dihidangkan di meja, Oirbakteri dan kawan-kawan bak ikan sapu-sapu, langsung menyapu potongan martabak manis itu.

"Oiiiir, udah kenyang kamu!" seru Aek Noto Boto.
"Udah, Mas," jawab Oirbakteri.

Seolah Oirbakteri lupa kejadian yang menimpanya ketika hendak ambil hasil cetakan stiker. Saat itu, ia ibarat sudah jatuh ketiban tangga pula. Artinya, uang habis ban sepeda motornya bocor, rokok pun habis.

Sampai di percetakan, dia dikerjain pemilik percetakan. Katanya, hasil cetakan stiker udah diambil.

"Siapa ya yang mengambil. Duit habis, pulsa pun habis. Susah mau hubungi bongkap," keluhnya.

Sambil menuntun sepeda motor bututnya kalau nyenggol orang bisa tetanus, Oirbakteri tersiksalah batinnya. Sepanjang jalan menuju rumahnya, Oirbakteri gerutu. Mau marah, siapa yang hendak dimarahi.

Peristiwa singkat itu cukup mendalam bagi Oibakteri. Mungkin kalau punya seratus sepeda motor, kendaraan yang sering dipakainya pasti diceburkan ke Situ Pamulang untuk menjadi rumpon.

"Pak, aku pusing banget," tuturnya.

Itulah kejadian yang dialami Oirbakteri. Makanya, sungguh mengherangkan ketika dibeliin martabak manis, otomatis kepenatan, kegalauan, dan perasaan BT pun sirna.
Lucunya biar galau, Oirbakteri selalu ingat Widya Mega Sari.

"Widya lagi ngapain ya Pak," celetuknya.
"Wah, mana kutahu Oir," jawabku.

Ternyata diam-diam Oirbakteri selalu mengingat Widya Mega Sari. Dia ingat ketika ditawari makan nasi Padang. Terkadang bercanda ria. Kalau begitu pantas, Oirbakteri merasa kena bogem mentah ketika mendengar Widya mengundurkan diri.

Ada perubahan meski tidak mencolok pada diri Oirbakteri sejak Widya mengundurkan diri dari Kantor ojolali.com. Orbakteri selalu mendengarkan lagu melankolis ciptaan Dewa 19, antara lain Kamulah Satu-satunya.

Malam makin larut. Oirbakteri pamitan pulang. Namun, rekan sekantornya tidak percaya kalau pulang ke rumah.

"Dia pasti langsung menuju pangkalan game online," tutur Ghozalmis Kapoor.

Rate this item
(0 votes)
Go to top