Emak Ijah Ngedumel Bak Kesetanan

detaktangsel.com - CELOTEH SEKETIKA, Emak Ijah ngedumel sejak pagi hari. Entah gara-gara apa, bawahan Emak Ijak sewot aja.

Muka asem. Bibirnya manyun terus. Tidak ada manis-manisnya. Siapa pun yang berpapasan ogah menegurnya. Kalau tidak bisa menghindari, kebanyakan tetangganya cari jalan lain daripada lewat rumah Emah Ijah.

"Samber geledek, kamu!" seru Emak Ijah bernada sumpah serapah.

Enggak tahu, sumpah serapah itu dialamatkan kepada siapa. Jangankan tetangga, anaknya sendiri enggak tahu.

"Tahu. Udah jangan dengerin Emah mau ngomong apa. Emang Emak uring-uringan sejak pagi," kata Udin, anak bontot Emak Ijah menjawab pertanyaan Basuki, tetangga sebelah rumahnya.

"Masak Din, kamu tidak tahu-menahu sebab musabab Emak ngomel?" tanya Basuki lagi.

"Sumpah deh, Bang, Udin enggak tahu. Kalau tahu enak. Udin bisa bujuk Emak diam. Malu kan Bang, ama tetangga," kata Udin.

"Maafin ya Bang."

"Enggak apa Din. Abang enggak masalah kok. Abang hanya heran, enggak biasanya sikap Emak kayak begitu," kata menantu mamang Latif ini.

Dari dalam Emak memanggil Udin kencang banget.

"Udin, Udiiiin, kemari!" seru Emak.

"Bang, Udin masuk dulu ya. Emak manggil Udin," tutur Udin bernada ketakutan.

"Iyaaa Emaaak........," sahut Udin.

Begitu Udin nyamperi di ruang dapur. Tampak Emak duduk sambil menguyah tales Bogor yang direbus. Sambil ngomelin Udin, Emak menyantap tales Bogor.

"Mana Abang elu, Manaf."

"Tahu Emak. Udin belum ketemu Bang Manaf sejak Subuh."

"Abang elu udah nyakiti hati Emak. Emak kesel banget. Kalau ketemu, Emak pingin bagel ama sandal nih."

"Emang kenapa sih Emak, Bang Manaf. Emak kok sewot banget."

"Abang elu janji bawa Emak ikut Kampanye Partai Gerindra di Gelora Bung Karno Senayan, Din. Emah udah siap dan rapi, Abang Elu kagak kelihatan batang hidungnya. Apa Emak enggak sewot."

"Perkara begitu aje Emak besar-besarin sampe tetangga pada kebingungan. Apa Emak kesambet penunggu pohon Beringin atau abis mimpi diseruduk Banteng."

"Emak berlebihan gara-gara batal ikut kampanye Partai Gerindra."

Giliran Udin ngomelin Emaknya. Ia enggak habis pikir kenapa Emak cuma gara-gara batal ikut kampanye. Ini aneh bin ajaib. Tidak semestinya Emak bersikap sedemikian rupa.

"Pasti something wrong nih," pikir Udin.

Karena penasaran, Udin meminta Emah Ijah diam seribu bahasa. Enggak usah ngedumel, teriak-teriak kayak kerasukan setan, dan mukanya jangan dipasang manyun dan asem. Lalu, Udin minta izin pergi ke warung Mas Paidi untuk membeli rokok. Padahal dia punya niat lain siapa pencetus ide untuk ngajak Emak berkampanye.

Sepuluh langkah dari rumahnya, Udin berpapasan dengan Kojan, Koordinator Pengepul Massa untuk pemenangan caleg dari Gerindra. Kebetulan pula Kojan baru pulang ikut kampanye.

"Mang Kojan, dari mana," tegur Udin.

"Pulang dari ikut kampanye Gerindra di Gelora Bung Karno Senayan, Din," sahut Kojan.

"Oh ya, Din. Abang elu Manaf mana. Katanya ikut kampanye kok nampakkan batang hidung sih Din?" tanya Kojan.

"Enggak tahu, Mang. Emak juga nyariin Abang Manaf. Apa Mang Kojan enggak ketemu," kata Udin.

"Itulah Mamang nanya ama elu, Din. Semalam, Abang elu ke rumah daftarkan diri mau ikut kampanye. Lalu, Mamang udah kasih biaya makan, rokok, dan uang saku untuk empat orang termasuk Emak didaftarin," tutur Kojan.

"Pantes, Mang. Emak mungkin uring-uringan karena batal ikut kampanye dan merasa dibohongi Abang Manaf. Emak jadi dendam ama Abang Manaf. Kalau Mang Kojan ketemu Abang Manaf, kasih tahu ya jangan ketemu Emak dulu," timpal Udin.

"Ya, Insya Allah, Din," jawab Kojan sembari pamit pulang mau istirahat.
Udin Enggak jadi ke warung Mas Paidi untuk beli rokok. Ia ngacir pulang dan langsung menemui Emak.

"Emak, emang Abang Manaf sial dangkalan. Bener Emak didaftarkan ikut kampanye ama Abang ke Mamang Kojan.

Dengar-dengar Emak dapat ampouw isinya cukup untuk beli beras lima literan," Udin mengadu dengan nada provokatif.
Bak api kesiram bensin. Emak tambah garang kepanasan. Emak langsung keluarkan perintah harian ke Udin.

"Din cari sampai ketemu Abang elu. Seret dia di hadapan Emak!" seru Emak.

Udin jelas tidak berani membangkang perintah harian Emak. Hukumnya pasal satu. Kalau tidak dilaksanakan, hilang jatah harian untuk makan dan beli rokok.

Dua tiga hari, Udin mencari Manaf. Bak ditelan bumi, Manaf benar-benar menghilang. Udin sampai tidak betah tinggal di rumah karena dicecar pertanyaan seputar Manaf.

Dua minggu sudah cerita Emak dan Manaf masih berlanjut. Giliran Udin yang ketiban sampur. Ia tetap melaksanakan perintah harian Emak.

"Aduh, ke mana lagi nyariin Abang Manaf nih. Semua pangkalan aku udah obok-obok. Semua tidak tahu gerangan Abang Manaf," gerutu Udin.

Udin mabuk kepayang bukan karena kasmaran ama janda kembang, putri juragan jengkol, Kosim. Ia mabuk karena belum bisa memenuhi perintah harian Emak.

Rate this item
(0 votes)
Go to top