Berpasangan Atau Dipasangkan Part Two

detaktangsel.com – CELOTEH SEKETIKA, Pak Mansyur adalah pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota Tangerang Selatan. Ia adalah aktivis sejak duduk di bangku kuliah. Karena status sebagai PNS, Pak Mansyur tidak berani terang-terangan aktif di partai politik.

Orangtua Pak Mansyur, Abdullah Nasir bin Satar termasuk kader Marsyumi. Gara-gara partai politik ini dibumihanguskan pemerintah saat itu, keluarga Pak Mansyur alergi terhadap kegiatan politik. Kendati demikian, Pak Mansyur masih suka mengikuti konstelasi politik nasional.

"Masyumi lahir, 7 Agustus 1945, ketika Jepang mulai sibuk bertahan dalam Perang Pasifik. Jepang merestui pendirian organisasi Islam itu dengan harapan kekuatan Islam membantu dalam perang. Padahal para pendiri Masyumi-Kiai Haji Wachid Hasyim, Mohammad Natsir, Kartosoewirjo, dan lainnya-menghendaki organisasi ini dapat menghadirkan semangat Islam dalam perang kemerdekaan," tutur Pak Mansyur.

Kartosoewirjo bukan pendatang baru. Sebelum terpilih sebagai Komisaris Jawa Barat merangkap Sekretaris I Masyumi, ia sudah aktif dalam Majelis Islam 'Alaa Indonesia (MIAI), salah satu organisasi cikal bakal Masyumi.

Bersama kawan-kawannya, atas izin Aseha-residen Jepang di Bandung, ia mendirikan cabang MIAI di lima kabupaten di Priangan. Kartosoewirjo cukup dekat dengan Jepang. Dalam Soeara MIAI, ia menulis betapa ajaran Islam akan berkembang bila umatnya ikut membangun dunia baru bersama 'Keluarga Asia Timur Raya'.

Beberapa tahun setelah Proklamasi, dalam Pedoman Dharma Bhakti, ia menjelaskan strategi kerja sama ini terbukti efektif.
"Masyumi dan MIAI, keduanya buatan Jepang. Dengan perantaraan agen para kiai ala Tokyo, sebenarnya kamp konsentrasi. Namun akhirnya menjadi pendorong dan daya kekuatan yang hebat (dalam pergerakan Indonesia)," tulisnya.

Atas usul Kartosoewirjo pula, Wachid Hasyim, Natsir, dan anggota lainnya, 7 November 1945, di Yogyakarta, menyatakan Masyumi sebagai partai politik. Kartosoewirjo tetap menjabat sekretaris pertama. Programnya menciptakan negara hukum berdasarkan ajaran agama Islam.

Kartosoewirjo juga diberi tugas mendirikan pusat Masyumi di daerah Priangan. Tujuh bulan setelah itu, Juni 1946, Masyumi daerah Priangan mengadakan konferensi pemilihan pengurus baru di Garut. Kartosoewirjo menunjuk Kiai Haji Mochtar sebagai ketua umum dan ia sendiri sebagai wakilnya.

Nama tokoh politik Islam setempat, seperti Isa Anshari, Sanusi Partawidjaja, KH Toda, dan Kamran, masuk kepengurusan.
Dalam pidatonya, Kartosoewirjo meminta pengikutnya memahami ajaran Islam yang hanif, menjaga persatuan, dan menghentikan konflik karena perbedaan ideologi.

"Karena konflik sesama bangsa Indonesia hanya akan menguntungkan Belanda," katanya.

Ia mematangkan partai yang diharapkan menjadi wahana organisasi bagi semua kelompok Islam, sambil mempersiapkan tentaranya sendiri, laskar Hizbullah dan Sabilillah di Priangan.

Memang, ada kalanya aku berpikir jika ke negeri ini, ada banyak sifat dan pemikiran yang unik. Walaupun begitu, mereka memegang teguh sebuah tradisi dan kekeluargaan. Mereka seringkali menganggap orang satu kampung atau satu daerah adalah keluarga mereka, dan mereka tidak segan-segan mengatakan itu pada semua orang.

Bila dikaji, mereka memang begitu dekat. Sampai-sampai mereka tidak ingin pergi jauh dari kedekatan itu, kecuali kepergian itu adalah untuk menyelesaikan sebuah permasalahan.

Berbeda dengan negeri kami yang selalu mengagungkan sebuah peradaban. Kami selalu mengganggap bahwa sebuah keluarga harus pergi dan merantau ke mana-mana. Kami harus mencari jatidiri kami dengan menempuh perjalanan yang jauh.
Itu yang membuatku terkadang berpikir, kenapa batu-batu yang ada di negeri kami, memiliki jarak yang jauh. Mereka tidak berdekatan atau bertumpuk-tumpuk seperti batu yang ada di negeri ini.

Aku tersentak. Mataku melesat mencari Pak Mustarif. Dia masih sibuk menawarkan batu yang telah ia pecahkan dengan toke koral tadi. Aku tidak mungkin akan mengganggu. Tetapi ada sesuatu yang kuingat. Dengan cepat aku berjalan ke dekat sungai.

Mengikuti apa yang telah dikatakan Pak Mustarif sebelumnya, yaitu memandangi sungai dan batu-batu itu. Aku yakin, sifat keras kepala Pak Mustarif dan pemikirannya yang terkadang melompat-lompat itu selalu saja memberikan arti penting buatku.

Kopi yang diberikan istri Pak Mansyur masih kupegang. Kulihat Situ Cina tenang. Tampak beberapa orang perempuan yang sedang bercanda ria sibuk bercerita di pinggir Situ.
Pak Mansyur menyentuh pundakku tiba-tiba. Aku menoleh.

"Sedang memikirkan apa?" katanya tersenyum seolah transaksinya dengan touke ikan telah berhasil memuaskan hatinya.

"Melihat perempuan-perempuan itu aku berpikir tentang Allah."
"Hablumminallah?"
"Hablumminannas."

Pak Mansyur tertawa. Gigi dan cara dia tertawa lagi-lagi membuat aku tertarik. Mungkin karena giginya yang ompong bercampur dengan wajahnya yang bulat.

Aku tersenyum. "Mungkin Situ itu yang membuatku berbeda kultur dan cara mengungkapkan bahasa."

Pak Mansyur menganggukkan kepala.

"Mungkin." Kami sama-sama memandangi seorang lelaki yang sedang berjalan di dekat kami. Lelaki itu menyusuri pinggiran Situ. Setelah itu, dia duduk jongkok di atas batu kali di pinggir sungai sambil menutupi tubuhnya dengan kain sarung.

Tawa meledak. Kami berdua menyingkir ke sebelah kiri, menjauhi lelaki yang akan membuang kotorannya itu. Sekejap kotoran itu mengapung, mengalir mengikuti arus sungai, menuju ke dataran rendah.

"Sudah seribu tahun lebih, atau sezaman dengan Kerajaan Besemah, penutus batu menjadi mata pencaharian penduduk di negeri ini," Pak Mustarif berkata datar.

Aku cukup terkejut mendengar penjelasannya yang tiba-tiba itu. Tetapi aku masih mendengarnya.

Rate this item
(0 votes)
Go to top