pdam tirta

Cinta Lama Deva Belum Kelar

detaktangsel.com - CELOTEH, Gara-gara posting status di facebook, Juwita alias Deva, kembali senyum manis. Hatinya berbunga-bunga, namun tidak pernah mekar. Kalaupun mekar enggak sampai semenit, layu.

Musim duren mengingatkan Deva teringkat cowok bernama Djali. Cowok beranak empat dan istri lima ini bak magnet. Istri termudanya, Astuti, belum memberikan anak.

Meski demikian, Deva kesesem.

Suatu hari, Kamis siang, Deva memergoki Djali sedang makan siang di Kafe Mak Kenol. Deva langsung menghampiri dan duduk sambil mencolek pipi Djali.

"Hei say. Sombong enggak ya makan sendirian," sapa Deva bernada manja.

"Si si silakan pesan sendiri," jawab Djali gelagapan mengetahui Deva sudah di sisinya.

Deva tidak mau membuang kesempatan. Ia langsung memesan jus alpukat dan nasi gudeg istimewa. Selain memang cacing-cacing perut Deva menuntut diempani, cewek satu memanfaatkan peluang bermesraan.

Maklum, semalam Deva membaca posting status Djali di akun dengan djalixelaloecayankamu. Deva mencolek Djali lewat dunia maya tersebut. Akhirnya colek-colekan hingga 101 kali. Namun, tidak janji ketemuan di Kafe Mak Kenol. Sementara akun Deva bernama dealovalovedjali.

"Bang Djali kok diam aje ada Deva," Deva memecahkan kebisuan.

Nada suara Deva genit, mengoda Djali. Sekali-kali tangan kiri Deva mencubit pinggang Djali. Otomatis berteriak lirih.

"Aduuuuh akit Va," keluh Djali.

"Abisin dulu makan, baru ngobrol kita."

Cewek setengah baya ini menuruti permintaan Djali. Ia mencaplok gudeg istimewanya. Sebutir telur pindang dipotong-potong jadi empat. Dimakan satu per satu. Tidak sampai sejam, Deva satu porsi nasi gudeg.

"Bang, kenapa enggak pernah BB, ngetuet atau fb-an ama Deva. Deva kan kangen banget," tuturnya kalem seraya melemparkan senyuman.

"Kebetulan aje Deva melintas di kafe ini, eeh jadi bisa ketemu Abang."

Dari raut mukanya, sejuta persen, Deva masih mengharapkan Djali. Berbinar-binar dan berbunga-bunga, hatinya. Tak lupa mengisap rokok filter pun, Deva penuh nikmat dan perasaan.

Sebenarnya Deva mengetahui Djali sudah punya keluarga. Namun karena kepelet atau diguna-gunai atau murni jatuh cinta, Deva memandang Djali bak tokoh perwayangan Arjuna.

"Bang Djali sayang, kenapa enggak mau colek Deva lagi. Abang sayang banget ya ama istri kelima, akhirnya Abang lupain Deva," bisik Deva.

"Enggak juga. Abang punya kesibukan baru. Jadi Abang enggak bisa ngapa-apain. Abang makan siang di Kafe Mak Kenol ini nyolong waktu. Syukur alhamdulillah, Abang ketemu my dear, Deva," sahut Djali.

Mendengar dipanggil my dear, hidung Deva kembang-kempis. Cara berbicara enggak konsetrasi lagi, blepotan.

"Ma asih, papa eeh Abang masih inget," sahut Deva sambil memegang tangan Djali.

"Abaaaang masih sayang dan kangen kan."

Deva makin menampakkan rasa kemanjaan. Sedangkan Djali biasa-biasa saja. Sekali-kali Djali meremas jari-jemari Deva.

Pertemuan antara Djali dan Deva bak pertemuan anak ABG yang lagi kasmaran. Penuh rayuan dan kata-kata gombal. Namun, masing-masing memahami dan memaknai kata-kata yang terucap sekadar pemanis belaka.

Udara hangat mengalir di tubuh Deva meski ruangan ber-AC. Cara isap rokok filter pun makin enggak tenang. Entah, apa isi benaknya.

Cerita di balik cerita ini ternyata kedua insan ini tercekik persoalan cinta lama belum kelar. Makanya, Deva sangat mengharapkan dan memimpikan hidup satu genteng bersama Djali.

Tak peduli status Djali sudah beristri lima. Yang penting, bagi Deva ada kehidupan dan hidup bersanding dengan Djali.

Rate this item
(0 votes)
Go to top