Bercita-cita Jadi Pengusaha Sampah

detaktangsel.com CELOTEH - Lapar......lapar.....lapaaaaaar! Nyanyian anak kelaparan terdengar saben hari. Perih bagi yang sempat mendengarkan. Potret kesedihan ini terpancar di wajah Andika.

Bocah anggon ini nyaris kehilangan waktu bermain. Pagi sekolah, sore ngaji, dan malem bantuin orangtua mengais rejeki dari bak sampah ke bak sampah.

Berbadan kurus, berkulit hitam. Itulah Andika. Siswa SD kelas VI ini. Ia semangat meski mengais rejeki dari sampah. Adiknya, Ismawati, kerap bantuin Andika. Namun, Andika melarangnya.

"Enggak usah ikut-ikutan, Dik. Bermain saja sama teman-temanmu di rumah," kata Andika berpesan ama Ismawati.

Andika pengen Ismawati menghabiskan waktu untuk bermain. Karena ada kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak seumur adiknya tersebut. Artinya, Ismawati jangan mengalami nasib serupa. Kehilangan waktu bermain hanya sekadar menghadapi kejamnya dunia.

Berdiri di ujung musim kering begini bagi Andika menjadi masalah berat. Andika gampang lelah akibat kehausan karena kepanasan. Agar tidak larut kepanasan, Andika suka tiduran di bawah pohon beringin yang terletak di lapangan sepakbola Rawa Lindung.

Beralas rumput, Andika rebahan. Sambil menantap langit, Andika mencoba meraih mimpi. Mimpi jadi pengusaha sampah. Namun, mimpi tidak peduli terhadap angan-angan Andika.

"Oh Gusti Allah, hamba mohon perlindungan dan barokah-MU,"pinta Andika.

Di tengah khayalan tingkat tinggi, Andika dikejutkan ciuman seekor kambing milik Wak Badrul. Hewan ini hendak dikurbankan. Andika beranjak dari rebahan. Duduk sambil mengelus-elus kambing warna putih tersebut.

Ngobrollah Andika dengan kambing. Andika bisikan doa ke kuping kambing agar tidak meronta ketika disebelih untuk kurban.

"Ikhas ya kamu jadi hewan kurban. Meski hewan, kamu bisa tunjukkan ketaqwaan dan keikhlasan di mata Allah."

Tiba-tiba Ismawati bersama Intan Bacan, Giok Lumut, dan Anissa Black Opal menyusul. Ketiga bocah itu mengerumi Andika ketika bersanding dengan kambing.

Keceriaan Ismawati dan kawan-kawannya membuat Andika iri. Sebab, Andika tidak punya waktu untuk bermain sejak umur delapan tahun. Waktunya habis untuk membantu orangtuanya.

"Giok, Intan, Anis yuk bermain ama kambing. Kita cariin makanan yuk buat kambing!" seru Ismawati mengajak kawan-kawan menghabiskan waktu bermain sama kambing.

"Nih daun pisang sama daun nangka," kata Giok.

"Saya bawain rumput masih segar nih, Isma," sambung Anissa.

Sang kambing melahapnya. Ismawati dan kawan-kawan berteriak riang gembira. Mereka bebas, lepas berlari-lari mengejar kambing itu. Kejinakkan kambing ini menambah suasana makin hangat meski mereka bermain sama seekor hewan.

"Enduk jangan digodain. Nanti kambingnya Wak Badrul marah!" seru Andika.

"Yaaaaaaa................," sahut mereka.

Andika kembali merebahkan badan. Kembali membangun puing-puing mimpi yang musnah lantaran kehadiran kambing Wak Badrul. Mata Andika lambat laun merem. Ngorok campur menginggau lagi.

Tak karuan suara Andika. Sulit dicerna, juga dipahami ocehannya saat tidur. Mungkin, ia sedang mimpi jadi pengusaha sampah. Maklum, Andika berhasil mengumpulkan banyak barang bekas layak jual. Tentu, Andika menyantaikan diri sambil istirahat.

Sementara Ismawati, Giok Lumut, Intan Bacan, Anissa Black Opal, dan Ismawati masih asik bermain bersama kambing. Mereka mengejanya ketika hewan kurban itu berlari.

Cakrawala pun berangsur-angsur bergerak ke arah Barat. Pertanda siang berganti sore hari. Hanya pakai sarung dan telanjang dada, Wak Badrul mencari kambingnya.

Wak Badrul senang ketika mengetahui kambingnya dikasih empan Ismawati dan kawan-kawan.

"Anak-anak, terima kasih udah ngasih empan kambing Kakek," ujar Wak Badrul.

"Yaaaaaaaa........, Kek," jawab mereka.

Wak Badrul pun minta maaf kepada Ismawati dan kawan-kawan hendak bawa pulang kambingnya. Sedangkan anak-anak mengiyakan. Sementara Andika masih lelap tertidur. Ismawati memberanikan diri membangunkan kakaknya. Karena ingin pulang.

"Mas bangun. Ayo pulang," kata Ismawati.

Andika bangun dan langsung mengangkat karung yang penuh barang bekas. Mereka berlima pulang penuh kegembiraan.

Rate this item
(0 votes)
Go to top