Raja Tanpa Mahkota

REVIEW FILM: Guru Bangsa: Tjokroaminoto REVIEW FILM: Guru Bangsa: Tjokroaminoto

detakbanten.com CILEGON – Suasana berbeda dari biasanya tampak di salah satu gedung bioskop 21 Cilegon. Ya, saat itu Plt Gubernur Banten, Rano Karno, didampingi sang sutradara Garin Nugroho dan Kapolda Banten Brigjen Pol Boy Rafli Amar beserta beberapa Kepala SKPD di lingkungan Pemprov Banten, bersama para wartawan yang bertugas di Pemprov Banten, nonton bareng film HOS Tjokroaminoto.

Hal tersebut dilakukan Plt Gubernur Banten Rano Karno, untuk memberikan motivasi dan semangat kepada generasi muda Banten, agar mengeluarkan berbagai ide kreatifitasnya dengan membuat film-film yang berkualitas.

"Saya berharap selain ada FFI, ada juga Festival Film Banten, saya mengajak anak muda Banten untuk membuat film-film yang berkualitas, apalagi Banten pada tahun ini akan menjadi tuan rumah FFI 2015." katanya.

Selama film berlangsung, tampak suasana hening didalam gedung bioskop. Namun, kerap diiringi tawa penonton yang menyaksikan adegan lucu dari mimic para pemain film HOS Tjokroaminoto. Namun, sosok Tjokroaminoto patut dijadikan contoh dalam pergerakan dan politik, serta ekonomi dan agama.

HOS Tjokroaminoto adalah sosok politik dan pemimpin organisasi yang berjuang dengan gagah berani, cerdik, lincah, pintar, dan menguasai persoalan, namun menghadapi segalanya dengan tenang tanpa mengedepankan emosi.

Dalam setiap pergerakan, kita jangan hidup dari organisasi, akan tetapi harus bisa menghidupkan organisasi agar menjadi lebih besar, sehingga kita harus memiliki usaha lain yang mendukung organisasi tersebut. Dalam setiap pergerakan, tetap harus mengedepankan agama.

HOS Tjokroaminoto
Raja Tanpa Mahkota, itulah HOS Tjokroaminoto salah seorang tokoh pergerakan politik organisasi islam yang patut kita contoh. Lihai, cerdas, bersemangat, dan ditakuti serta disegani lawan – lawan politiknya.

Perjuangan Hos Tjokroaminoto dalam membela hak kaum pribumi saat itu benar – benar menempatkan dirinya menjadi seoarang tokoh yang benar-benar dihormati. H.O.S Tjokroaminoto lahir di Desa Bakur, Madiun Jawa Timur tahun 1.883.

Ia anak kedua dari dua belas bersaudara putra dari Raden Mas Tjokro Amiseno, seorang Wedana Kleco dan cucu R.M Adipati Tjokronegoro bupati Ponorogo. Meskipun terlahir dari keluarga bangsawan, namun tidak serta merta membuatnya bersikap angkuh. Justru ia menjadi sebuah motor penggerak kemerdekaan bagi Indonesia, disaat semua manusia tertidur dalam belaian kompeni Belanda.

Sejak ia Kecil, ia kerap melihat penyiksaan yang dilakukan oleh bangsa Belanda terhadap kaum Pribumi. Kemudian, ada sebuah kata yang hingga dirinya dewasa yang selalu terngiang, yakni "Hijrah".

Saat beranjak Dewasa, awalnya HOS Tjokroaminoto mengikuti jejak kepriyayian ayahnya, sebagai pejabat pangreh praja.
HOS Tjokroaminoto kemudian menikah dengan seorang gadis bernama Suharsikin, putri salah seorang pajabat Bupati. Setelah itu, ia masuk pangreh praja setelah menamatkan studi di OSVIA, Magelang.

Pada tahun 1907, ia keluar dari kedudukannya sebagai pangreh pradja di kesatuan pegawai administratif bumiputera di Ngawi, karena ia muak dengan praktek sembah-jongkok yang dianggapnya sangat berbau feodal. Bahkan, saat itu ia diusir oleh orang tuanya karena dianggap telah membuat malu keluarganya yang telah diberikan kedudukan dan kenyamanan oleh bangsa Belanda.

Sebelum pergi berhijrah, ia meminta agar sang istri yang tengah mengandung anaknya, untuk tinggal bersama mertuanya. Saat itu, bapak mertua HOS Tjokroaminoto merasa marah karena meninggalkan istrinya tanpa pamit, namun sang istri tetap bertahan menunggu kedatangan suami.

Setelah kepergiannya itu, ia bekerja pada Firma Coy & CO di Surabaya, disamping meneruskan pada Burgelijek Avondschool bagian mesin. Lalu ia pun bekerja di bagian kimia pada pabrik gula di Surabaya. ( 1911 – 1912). Bahkan saat itu ia mulai membuat percetakan koran lokal.

Tidak lama setelah itu, ia pulang ke rumah mertuanya menjemput anak dan istri, untuk diajak Hijrah ke Kota Surabaya. Setibanya di Surabaya, ia bersama istrinya, Suharsikin menjadikan rumah kost di rumahnya di Surabaya. Saat itu, Ia mulai dikenal oleh para tokoh politik diseluruh penjuru Indonesia melalui surat kabarnya, hingga tiba utusan dari H Samanhudi selaku pemimpin organisasi Serikat Dagang Islam, yang dibekukan oleh Belanda ke rumah HOS Tjokroaminoto.

Mereka meminta agar HOS Tjokroaminoto berkenan menjadi pemimpin organisasi tersebut, hal ini disambut baik olehnya, yang kemudian mengganti nama organisasi menjadi Sarekat Islam atau lebih dikenal dengan SI, yang berdiri pada tahun 1912.

Seiring perjalanannya, SI digiring menjadi partai politik setelah mendapatkan status Badan hukum pada tahun1912 oleh pemerintah yang saat itu dikontrol Gubernur Jenderal Idenburg. SI kemudian berkembang menjadi parpol dengan keanggotaan yang tidak terbatas pada pedagang dan rakyat Jawa-Madura saja. Kesuksesan SI inimenjadikannya salah satu pelopor partai Islam yang sukses saat itu.
Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya tersebut,

HOS Tjokroaminoto tidak hidup dari pergerakannya di Organisasi, namun ia mengandalkan usahanya berdagang batik, yang diproduksi oleh istrinya sendiri. Ia beruntung memiliki istri seperti Suharsikin yang memberikan bantuan moril terhadap suami.

Bahkan sudah menjadi kebiasaan sang istri, jika suaminya bepergian untuk kepentingan perjuangannya, istri yang sederhana dan prihatin ini mengiringi suaminya dengan sholat tahajud, dengan puasa, dan do'a.

Dengan lahirnya Sarekat Islam, mulailah HOS Tjokroaminoto membuat cariere. Ia dikenal sebagai orang yang berkarakter radikal, selalu menentang kebiasaan-kebiasaan yang memalukan bagi rakyat pribumi. Pada saat itu Tjokroaminoto telah dikenal sebagai seorang yang sederajat dengan pihak manapun, baik belanda ataupun pejabat pemerintah.

SI berorientasi politik, ekonomi, Sosila dan Agama. HOS Tjokroaminoto merupakan tokoh politik yang berhasil menggabungkan retorika politik melawan penjajah Belanda, dengan ideology Islam sehingga mengenyahkan penjajah dari bumi Nusantara.

Para pendiri Sarekat Islam mendirikan organisasinya tidak semata-mata untuk mengadakan perlawanan terhadap orang-orang cina, melainkan membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumiputra, dan merupakan reaksi terhadap rencana Krestenings-Politiek (Politik Peng-Kristenan) dari kaum zending, perlawanan terhadap kecurangan-kecurangan dan penindasan-penindasan dari pihak ambtener-ambtener bumi putra dan eropa.

Perlawanan Sarekat Islam ditujukan terhadap setiap bentuk penindasan dan kesombongan rasial. Maka Sarekat Islam berhasil sampai pada lapisan bawah masyarakat, yaitu lapisan yang sejak berabad-abad hampir tidak mengalami perubahan dan paling banyak menderita.

Prestasi perdana Tjokroaminoto adalah ketika ia sukses menyelenggarakan vergadering SI pertama pada 13 Januari 1913 di Surabaya. Rapat besar itu dihadiri 15 cabang SI, tiga belas di antaranya mewakili 80.000 orang anggota. Kongres resmi perdana SI sendiri baru terlaksana pada 25 Maret 1913 di Surakarta, dan HOS Tjokroaminoto terpilih menjadi wakil ketua CSI mendampingi H Samanhudi.

Kongres SI ke-II di Yogyakarta pada 19-20 April 1914 melejitkan nama Tjokroaminoto sebagai Ketua CSI menggantikan Samanhoedi dalam usia yang masih muda 31 tahun. Di tangan HOS Tjokroaminoto, SI mewujud menjadi organisasi politik pertama terbesar di Nusantara. Pada 1914, anggotanya mencapai ratusan ribu.

Setiap anggotanya, memiliki nomor anggota yang dianggap jimat pertama kali oleh seorang pedagang bangku, kemudian menjadi anggapan seluruh anggota. Bahkan beberapa elite kerajaan jawa, yang tak suka dengan campur tangan belanda dalam urusan mereka, mendukung Sarekat Islam.

Tjokroaminoto adalah seoarang orator ulung dalam vargadering-vargadering SI yang sanggup mengalahkan "suara baritonnya yang berat dan dapat didengar ribuan orang tanpa mikrofon". Dibawah kepemimpinannya, Sarekat Islam menjadi organisasi yang besar dan bahkan mendapat pengakuan dari pemerintahan colonial Belanda.

Pada Kongres Nasional pertama di Bandung pada tahun 1916 ia berkata:
HOS pada kongres CSI tahun 1917 HOS mengutarakan persaudaraan umat tidak terbatas letak geografis ras suku dan kedudukan, semua berlandaskan persaudaraan Islam. HOS tidak menyebutkan kata Ukhuwah. Tapi gagasan yang HOS gunakan menempatkan Islam sebagai pemersatu seluruh umat.

Perkembangan pesat SI lebih disebabkan citra Islam, yang menjadi magnet utama menarik massa. Apalagi SI adalah tempat berkumpulnya para tokoh Islam terkemuka, sebut saja KH Ahmad Dahlan, Agus Salim, AM Sangadji, Mohammad Roem, Fachrudin, Abdoel Moeis, Ahmad Sjadzili, Djojosoediro, Hisamzainie, dan lain-lainnya. Orang-orang besar inilah yang sangat dikagumi dan menjadi panutan bagi sekalian rakyat.

Tjokroaminoto pun sempat menghasilkan buku-buku Islam, juga menulis banyak artikel tentang materi keislaman. Meski Tjokro bukan seorang ahli agama yang benar-benar murni berkonsentrasi pada pemahaman ajaran Islam, tetapi Tjokroaminotolah yang menjadi Bapak Politik Umat Islam Indonesia. Ia adalah begawan muslim yang mengajarkan pendidikan politik kepada seluruh rakyat Indonesia.

Dalam memimpin, Tjokroaminoto banyak melakukan tindakan-tindakan yang seringkali membuat pemerintah Hindia Belanda berang. Antusiasme rakyat terhadap SI membuat kaum kolonialis khawatir akan timbulnya perlawanan massal di kelak kemudian hari.

Di setiap kegiatan SI, massa yang datang pasti bejubel. HOS Tjokroaminoto pernah pula memimpin aksi buruh, membuka ruang pengaduan untuk rakyat di rumah dan di kantornya, membela kepentingan kaum kromo lewat pidato dan tulisannya di media pergerakan, memantik rasa kebangsaan Indonesia dengan menggencarkan gagasan soal pemerintahan sendiri.

Ketakutan pemerintah kolonial terhadap sepak terjang Tjokroaminoto dan SI membuat mereka terpaksa merangkulnya untuk duduk sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat. Penunjukan Tjokro ini membuat beberapa golongan di internal SI, terutama dari SI Semarang yang dimotori Semaoen dan Darsono, menentang kebijakan ini. Mereka juga tidak sepakat dengan dukungan Tjokroaminoto terhadap rencana pembentukan milisi bumiputera.

Karena aktifitas politiknya Belanda akhirnya menangkap Tjokro pada tahun 1921 karena dikhawatirkan akan membangkitkan semangat perjuangan rakyat pribumi walaupun akhirnya dibebaskan, sebuah cobaan yang lazim diterima para penegak syariat islam di seluruh dunia.

Sebagai seorang pemimpin, wajar jika Tjokroaminoto punya banyak murid, di antaranya adalah Soekarno, Muso, Alimin, Kartosoewirjo, Buya Hamka, Abikoesno, dan banyak lagi. Hos Tjokroaminoto sendiri memiliki empat orang anak, dengan putrid pertama bernama ...
Ide-ide, ilmu dan gagasan Cokro menghujam kedada para muridnya, meskipun dengan pemahaman yang beraneka ragam sesuai dengan latar belakang, pendidikan dan pekerjaanya masing masing.

Tjokroaminoto juga seorang jurnalis yang pernah memimpin suratkabar Otoesan Hindia yang merupakan organ internal SI, sekaligus sebagai pemilik usaha percetakan Setia Oesaha di Surabaya. Juga pernah terlibat dalam Bendera Islam bersama Agus Salim, Soekarno, Mr Sartono, Sjahbudin Latief, Mohammad Roem, AM Sangadji, serta aktivis Islam dan Nasionalis lainnya.

Beberapa anak Bumiputra yang telah lulus sekolah, merasa arogan, dan benar. Bahkan mereka menilai HOS Tjokroaminoto dianggap lemah dalam perjuanggannya. Mereka kemudian mulai membelot dengan mendirikan organisasi lain, dan mengajak orang-orang terdekat HOS Tjokroaminoto untuk bergabung.

Perpecahan SI menjadi dua kubu karena masuknya infiltrasi komunisme memaksa HOS Cokroaminoto untuk bertindak lebih hati-hati kala itu. Ia bersama rekan-rekannya yang masih percaya bersatu dalam kubu SI Putih berlawanan dengan Semaun yang berhasil membujuk tokoh-tokoh pemuda saat itu seperti Alimin, Tan Malaka, dan Darsono dalam kubu SI Merah. Namun bagaimanapun, kewibaan HOS Cokroaminoto justru dibutuhkan sebagai penengah di antara kedua pecahan SI tersebut, mengingat ia masih dianggap guru oleh Semaun.

Hal tersebut lalu mendorong Muhammadiyah pada Kongres di Yogyakarta mendesak SI agar segera melepas Semaun karena memang sudah berbeda aliran dengan Sarekat Islam. Akhirnya Semaun dan Darsono dikeluarkan dari SI.

Namun, kemudian orang-orang tersebut ditangkap oleh colonial Belanda karena dianggap telah melakukan tindakan perlawanan secara radikal, melalui perlawanan organisasinya yang baru tersebut. HOS Tjokroaminoto kemudian meraa gagal mempertahankan dan menanamkan pemahaman kepada generasi muda tersebut, sehingga ia mulai merasa letih dengan perjuangannya.

Kemudian, HOS Tjokroaminoto mulai berfikir untuk lebih focus merawat keluarganya, dan pulang ke rumahnya di Subaya untuk bertemu dengan sang istri. Namun, alangkah terkejutnya ia ketika menemukan sang istri tengah sakit keras.

Tidak lama ia tiba di rumahnya, sang istri kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ribuan pengikut HOS Tjokroaminoto yang berada didepan rumahnya, menangis histeris akan kematian Suharsikin yang telah mendampingi HOS Tjokroaminoto selama hidupnya.

Rate this item
(0 votes)
Go to top