Pilot Surplus Disoal, Menhub Diminta Atur Kebijakan

detak.co.id TANGERANG-Permasalahan banyaknya pilot di Indonesia terus mencuat. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan mengeluarkan kebijakan yang dianggap memberatkan pihak sekolah penerbang.

Menyikapi hal tersebut, Perkumpulan Institusi Pendidikan Penerbangan Indonesia (PIP2I) angkat bicara. Pemerintah diminta tidak membesar-besarkan hal tersebut dan membiarkan mekanisme pasar yang bekerja.

Penyerapan pilot di Indonesia saat ini memang lemah. Diprediksi, peningkatan permintaan pilot akan membaik akhir 2017 dan 2018 mendatang.

Ketua PIP2I Karin Item menegaskan, Kementerian Perhubungan tidak perlu repot mengurusi hal yang mengenai surplus ini. Ia menyarankan lebih baik membahas soal sisi safety penerbangan saja.

Lebih jauh pihaknya saat ini terus melakukan komunikasi dengan berbagai instansi terkait agar persoalan surplus pilot ini tidak menjadi bumerang bagi pendidikan penerbangan di tanah air. Masih banyak sektor aviasi Indonesia yang menjadi lapangan kerja bagi pilot lulusan sekolah penerbang Indonesia.

"Harapan kami kebijakan Kemenhub agar lebih memperhatikan standard dan best practice internasional, terutama untuk pendidikan penerbangan. Kemudian juga diharapkan memberikan kepastian dan kemudahan berusaha di industri penerbangan, termasuk pendidikan penerbangan yang merupakan bagian dari rantai industri penerbangan. Selain itu, kami ingin pemerintah menaruh perhatian dan dukungan yang lebih besar bagi potensi aktivitas general aviation dan pendidikan penerbangan,” paparnya.

Sementara itu, pengamat penerbangan Gerry Soejatman menuturkan surplus pilot kali ini merupakan temporer, bukan kali ini Indonesia mengalaminya, saat krisis moneter, sudah mengalami. Saat itu penyerapan 10 tahun baru selesai.
 
“Nah surplus saat ini terjadi kenapa? Karena ada temporary market corected, yang berujung daya serap pilot melememah,” terangnya.

Menurutnya, di Indonesia yang terjadi sesungguhnya yaitu gap yang terjadi antara apa yang diketahui para siswa sebelum masuk dan yang mereka ketahui setelah mereka lulus berbeda.

“Setelah mereka lulus mereja memiliki CPL IR kebanyakan itu single engine, sedangkan maskapai butuhnya multiengine, dahulu bisa terima aja karena masih kekurangan pilot, namun sekarang sudah tidak bisa," bebernya.

Gerry menambahkan, saat ini yang bisa dilakukan oleh sekolah penerbang yaitu menjaga mutu, biarpun itu tidak di publish, industri akan mengetahuinya, sekolah mana yang bagus.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Ikatan Pilot Indonesia (IPI) Capt.Bambang Adisurya mengatakan, bahwa yang diperlukan oleh sekolah penerbangan saat ini yaitu memenuhi ketentuan pemerintah dan menjaga mutu kualitas lulusannya, kemudian melakukan kerjasama dengan operator-operator. Terkait surplus, ia menjelaskan bahwa di tahun 2018 nanti akan banyak pilot usia 65 yang akan pensiun.

"Tentu kebutuhan pilot pada saat itu akan tinggi, namun yang paling penting adalah  menjaga kualitas lulusan pilot yang sudah lama menganggur. Terkait ini, IPI mengadakan refreshing training bagi ab initio sehingga ilmu mereka tetap terjaga," jelasnya.

 Baca Juga : Hadapi Erupsi Gunung Agung Bali, XL Axiata Siapkan Antisipasi Jaringan

Rate this item
(0 votes)
Go to top