Mudik: Antara Tradisi, Kesadaran dan Fitrah

detak.co.id Bahagia itu ternyata sederhana, yaitu ketika orang tua masih dan selalu mendoakan kita dan memaafkan kesalahan kita.

Bahagia itu ternyata sederhana, yaitu ketika saudara-saudara kita masih mengenali kita, saling menyapa, memaafkan dan mendoakan kebaikan.

Bahagia itu ternyata sederhana, yaitu ketika kerabat, teman dan tetangga kita masih saling menyapa, saling memaafkan, saling berbagi dan membantu.

Bahagia itu ketika hablumminannas secara horizontal baik, dan hablumminallah secara vertikal juga baik.

Kalau kita merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Mudik setidaknya memiliki dua arti; pertama, (berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman), dan kedua, pulang ke kampung halaman. kedua arti tersebut secara substantif dapat dipahami bahwa mudik itu kembali ke tempat asal. Kembali itu sendiri dapat juga bermakna ganda, yaitu kembali sementara atau kembali selama-lamanya.

Di Indonesia, menjelang hari raya iedul fitri sebagian umat Islam, bahkan mungkin hampir mayoritas melakukan mudik, yaitu kembali ke kampung halamannya untuk menemui orang tua atau saudaranya.

Dari berbagai media dan beberapa pendapat ditemukan bahwa mudik sudah ada sejak kerajaan Majapahit dan Mataram Islam. Mengenai hal ini saya belum bisa membahas lebih lanjut karena tentu saja membutuhkan penelitian, setidaknya kajian khusus. Di Indonesia sendiri, mudik di saat menjelang lebaran mulai populer sejak tahun 70an, dimana orang yang sukses (dengan beragam derajat kesuksesannya) di Jakarta banyak kembali ke kampung halamannya. Namun untuk saat ini, simbol tempat (baca daerah) orang sukses bukan hanya Jakarta, tapi kota-kota besar lainnya bisa menjadi suatu simbol suksesnya seseorang. Sukses dalam konteks ini biasanya dipahami sebagai sukses ekonomi yang ditunjukkan dengan kemapanan seseorang. Meskipun sukses ekonomi bukanlah satu-satunya standar seseorang disebut sukses.

Mudik yang dilakukan, khususnya oleh ummat Islam, karena telah menjadi kebiasaan dan secara rutin dilakukan tiap tahun, maka dapat dikatakan sebagai tradisi. Perlu tegas dikatakan bahwa perjalanan seseorang dari kota atau daerah dimana ia tinggal menuju kampung halamannya atau daerah dimana orang tua dan saudaranya berada itu adalah tradisi mudik. Sampai disini, mudik itu ya tradisi tidak lebih dari itu. Dikatakan tradisi karena hal itu merupakan kebiasaan baik yang terus menerus dilakukan, meskipun dalam teks agama tidak ditemukan perintah secara langsung mengenai mudik.

Meskipun mudik merupakan tradisi, namun apabila dikaji lebih lanjut, mudik sebagai proses untuk bersilaturrahmi dan bertemu dengan orang tua, saudara atau kerabat, baik untuk sungkem, minta restu, saling mendoakan maupun minta maaf, maka mudik bukan hanya sekedar tradisi namun dapat menjadi suatu kesadaran, yaitu kesadaran untuk mewujudkan ketaatan kepada orang tua sekaligus permohonan maaf dan minta doa. Mengapa orang tua, karena agama secara tegas memberikan perintah kepada kita untuk taat dan patuh kepada orang tua. Sementara ketaatan kepada orang tua itu sendiri merupakan perwujudan ketaatan kita kepada Allah SWT. Hal ini antara lain mengingat bahwa ridha Allah SWT ada pada ridha kedua orang tua dan murka atau kebencian Allah SWT juga ada pada murka kedua orang tua. Meski demikian, iedul fitri bukan momen satu-satunya manifestasi ketaatan kita kepada orang tua seperti untuk menyampaikan permohonan maaf dan mendoakannya. Namun iedul fitri bisa menjadi momen terbaik, sebagai hari yang disebut hari fitri (dengan sekian penjelasan mengenai hari fitri) setelah sebulan melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan.

Kesadaran untuk mewujudkan ketaatan kepada orang tua sekaligus sebagai ketaatan kepada Allah SWT, pada akhirnya merupakan fitrah seorang hamba ( 'abdun) yang senantiasa ingin mengabdi kepada Tuhannya, serta kesadaran bahwa kita semua akan kembali untuk menghadap-Nya.

Mudik secara duniawi bisa jadi hanya sementara, tapi yakinlah bahwa kita semua akan mudik untuk berjumpa dengan Allah SWT, dengan berbagai variasi perjumpaan yang tergantung amal ibadah kita selama di dunia. Semoga kita semua menjadi pemudik yang baik dan selamat, baik mudik sementara di dunia ini maupun ketika mudik kelak di akhirat. Wallahu 'alamu bi murodihi. (Nurdin Sibaweh, Staf Ahli Komisi X DPR RI)

Rate this item
(1 Vote)
Go to top