Basmalah & ICMI

Detak.co.id TANGSEL - Pada hari Senin 6 Syawal 1440 H saya berkesempatan silaturrahmi ke rumah Prof. Dr. KH. Amin Suma (selanjutnya disebut Amin Suma) di Legoso-Ciputat. Beliau merupakan seorang ulama dari Banten dan juga akademisi. Namun dalam konteks ICMI beliau merupakan salah satu pendiri ICMI, dan dalam konteks lebih kecil lagi beliau merupakan pendiri ICMI Orsat Ciputat yang dapat dikatakan merupakan Orsat (Organisasi Satuan) pertama di Banten.

Dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan, saya berbincang banyak hal tentang keummatan, kebantenan dan juga tentang ke-ICMI-an. Dalam hal ini saya ingin berbagi informasi mengenai sekelumit sejarah terkait ICMI. Sebagai keluarga besar ICMI, apabila memperhatikan nama organisasi ini dan AD/ART nya, maka ada beberapa hal menarik yang perlu dikemukakan.

Nama organisasi ini adalah Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, disingkat menjadi ICMI. Dalam nama organisasi ini ada kata se sebelum kata Indonesia. Berdasarkan penuturan Amin Suma, kata se itu merupakan usulan langsung dari Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie, dengan tujuan agar ICMI menjadi satu-satunya organisasi cendekiawan muslim di Indonesia dan tidak ada ICMI lain selain ICMI ini,  dan juga agar ICMI mencakup/meliputi seluruh cendekiawan muslim yang ada di Indonesia.

Hal menarik berikutnya adalah kalimat (kalam) Bismillahirrahmanirrahim yang ada di awal AD/ART ICMI, tepatnya setelah/dibawah kata Mukadimah pada AD (Anggaran Dasar) ICMI. Penulisan dan pencantuman kalimat Bismillahirrahmanirrahim  tersebut pada awalnya terjadi perdebatan, baik pada konteks perlu tidaknya dicantumkan, bagaimana penulisannya (arab atau latin), sampai perdebatan bagaimana kalau kalimat tersebut ada dalam AD/ART lalu terbawa dikamar mandi, toilet, atau bagaimana kalau terinjak-injak dan sebagainya. Alhasil, kalimat tersebut tetap dipertahankan dan dicantumkan. Adapun yang mengusulkan dan mempertahankannya adalah Prof. Amin.

IMG 20190613 WA0007

Pencantuman kalimat tersebut, tentu bukan hanya sekadar dicantumkan agar nampak lebih islami, tapi lebih dari itu, dalam pandangan saya hal tersebut merupakan suatu proses membangun kesadaran teologis, yaitu suatu pengakuan bertuhan sekaligus bersumpah atas nama Allah SWT yang memiliki sifat rahman dan rahim. Kesadaran ini tentu saja akan berimplikasi dalam kehidupan ber-Islam dan beragama.

Saya menjadi penasaran atas usulan dan pembelaan Amin Suma dalam mencantumkan basmalah pada mukadimah Anggaran Dasar ICMI. Pikiran ini lalu terbang ke masa dunia santri, namun selanjutmya  saya teringat tafsir yang ditulis oleh Amin Suma sendiri, yaitu Tafsir Al-Amin Bedah Surah Al-Fatihah, kemudian saya coba membuka-buka Tafsir tersebut.

Dalam Tafsir Al-Amin, dijelaskan bahwa basmalah dalam al-Quran ditulis sebanyak 114 kali diseluruh surat kecuali surat At-taubah, satu lagi terdapat dalam surat An-Naml ayat 30. Hal ini mengisyaratkan betapa urgen eksistensi, posisi, dan terutama fungsi basmalah dalam al-Quran, khususnya dalam surat al-Fatihah. Diantara indiktornya, para nabi dan rasul Allah SWT terbiasa dan membiasakan diri, untuk selalu menyebut nama Allah, basmalah. Maknanya, basmalah tidak serta merta diperkenalkan hanya kepada Nabi Muhammad SAW, namun sudah Allah SWT ajarkan kepada para nabi dan rasul yang terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW (Amin Suma, 2018:100). Dengan demikian basmalah merupakan perbuatan baik dan sudah ada serta diajarkan sebelum nabi Muhammad SAW.

Bismillah, yang umum diterjemahkan “Dengan nama Allah” atau “Dengan menyebut nama Allah”, bahkan ada juga yang memaknainya “Demi nama Allah”. Huruf ba dalam kata Bismillah banyak atau bahkan kebanyakan mufassir menyebutkan murni huruf jar. Meskipun ada sebagian dan tepatnya sedikit ulama yang memahaminya sebagai huruf qasam (huruf untuk sumpah). Inilah yang menyebabkan adanya perbedaan pendapat dalam memaknai dan menafsirkan kata Bismillah (Amin Suma, 2018:101). Memperhatikan hal tersebut, penerjemahan Bismillah, menjadi “Dengan nama Allah” atau “Dengan menyebut nama Allah”, atau “Demi nama Allah” memiliki argumennya.
Dalam Tafsir Al-Amin Bedah Surah Al-Fatihah, secara panjang lebar Amin Suma mengupas tafsir Bismillahirrahmanirrahim mulai dari halaman 101 sampai 112. Dimana dalam tafsirnya tersebut mengupas setidaknya secara Bahasa, filsafat dan tinjauan sosial. Tentu perlu ruang khusus untuk mendalami tafsir basmalah tersebut, apalagi tafsir secara menyeluruh mengenai surat al-fatihah.

Dalam konteks penjelasan Amin Suma dalam silaturahmi saya pada tanggal 6 Syawal 1440 H tersebut, dan dikaitkan dengan redaksi basmalah dalam Anggaran Dasar ICMI, saya ingin menyampaikan penjelasan Amin Suma dalam tafsir tersebut, khususnya di halaman 109.

Amin Suma menjelaskan bahwa bapaknya para mufassir, Imam At-Thabari menyatakan bahwa Allah SWT dzikruh wa-taqaddasat asmauh (yang tinggi penyebutan-Nya dan maha suci nama-nama-Nya) melalui basmalah bermaksud untuk mendidik dan mengajarkan para nabi-Nya, khususnya nabi Muhammad SAW agar memulai segala aktivitasnya dengan lebih dulu menyebut nama Allah SWT. Selain itu, juga mendahulukan penyebutan sebagian sifat-sifat-Nya, terutama sifat al-rahman dan al-rahim sebelum mendahulukan semua kepentingan diri nabi sendiri. (Amin Suma, 2018:109).

Lebih lanjut, Amin Suma menjelaskan bahwa pendidikan dan pengajaran menyebut nama Allah SWT untuk memulai segala aktivitas sejatinya dimaksudkan untuk disampaikan kepada semua hamba Allah SWT, dan termasuk kita dalam mentradisikan pembacaan basmalah. Pembacaan ini tegas Amin Suma, dijadikan landasan pacu dalam mengawali semua dan setiap pembicaraan, setiap pekerjaan, serta setiap permulaan (penulisan) risalah dan lain-lain. (Amin Suma, 2018:109). Sampai disini, saya mengerti mengapa Amin Suma mengusulkan dan mempertahankan basmalah untuk dicantumkan dalam mukadimah Anggaran Dasar ICMI.
Berdasarkan penjelasan di atas dan penghayatan atas makna serta kandungan basmalah, maka mengawali segala aktivitas dengan ucapan Bismillahirrahmanirrahim dan mengawali penulisan risalah dan lain-lain merupakan hal yang utama dan kebaikan yang perlu ditradisikan. Tentu saja bukan hanya di ICMI tapi diorganisasi lainnya dan seluruh aktivitas kita sehari-hari. Wallahu alamu bimuridihi.

Rate this item
(1 Vote)
Go to top