Menimbang Arti Kemerdekaan

detaktangsel.com - OPINI, Asik Mendengarkan lagu GUGUR BUNGA yang liriknya sebagai berikut :

Betapa hatiku takkan pilu. Telah gugur pahlawanku.
Betapa hatiku takkan sedih. Hamba ditinggal sendiri.
Siapakah kini pelipur lara nan setia dan perwira. Siapakah kini pahlawan hati, pembela bangsa sejati.
Telah gugur pahlawanku. Tunai sudah janji bakti.
Gugur satu tumbuh seribu. Tanah Air jayasakti.
Gugur bungaku di taman hati. Di haribaan Pertiwi
Harum semerbak menambahkan sari. Tanah Air jayasakti.

Betapa pilu hati ini ketika melihat kondisi hari ini. Betapa hari ini kita di Indonesia menghianati para pejuang yang telah memperjuangkan keringat, darah, air mata, bahkan nyawa mereka sumbangkan hanya demi memerdekakan Indonesia.

Mungkinkah jika waktu itu terjadi, apakah kita akan mampu melakukan perjuangan yang seperti dilakukan pejuang kita terdahulu. Jawabanya, kita belum tentu mau dan mampu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia seperti yang pejuang telah lakukan dahulu.

Hari ini, tepatnya 17 Agustus 2014, kita memperingati HUT Ke-69 NKRI. Apakah kita sudah merdeka?
Ya, berdasarkan pengakuan, baik internal maupun eksternal bangsa Indonesia telah merdeka. Namun apa hanya sebatas pengakuan, kita merasakan kemerdekaan itu atau hanya sekadar simbol peringatan 17 Agustus itu. Apakah perayaan 17 Agustus ini hanya sebatas seremoni.

Saya rasa ya. Karena sudah 69 tahun rakyat Indonesia masih dijajah bangsa asing, baik dari dari dalam maupun luar. Yang sangat memilukan adalah bahwa kemerdekaan kita hanya kemerdekaan yang seremonial.

Kenapa demikian? Kita mengalami kemerdekaan seremonial, karena kemerdekaan hanya sebatas peringatan seremonial saja. Makna peringatan kemerdekaan itu harus dicapai kita bersama. Para pemuda- pemudi kita harus bangkit dari keterpurukan. karena kita sudah jenuh melihat Ibu Pertiwi menangis. Saat ini Ibu Pertiwi memanggil kita semua.

Di tengah hantaman badai korupsi, kolusi, dan nepotisme yang melanda Indonesia hari ini. Penjajahan hari ini bukan lagi penjajahan secara kasat mata. Namun sudah sampai tidak kasat mata lagi (tidak bisa dibedakan yang mana yang penjajah kita).

Ayo bangun pemuda-pemudi. Sudah saatnya kita katakan apa yang seharusnya kita katakan. Bahwa jelas di Bumi Pertiwi ini belasan ribu pulau, ribuan hutan, ribuan kekayan hayati, dan budaya ada di bumi Indonesia. Jangan biarkan saudara kita tidak dapat melanjutkan sekolah. Karena kurang biaya.

Jangan biarkan manusia Indonesia mati karena tidak memiliki uang untuk berobat saat sakit. Juga jangan sampai ada orang Indonesia yang mati kelaparaan. Lalu, jangan ada orang Indonesia yang kekurangan suatu apapun. Karena bangsa kaya, sudah waktunya kita bangkit dari keterpurukan saudara-saudaraku.

Pemerintahan harus memperhatikan nasib rakyat. Bahkan, harus memberikan kepastian hukum, jaminan kesehatan, jaminan pendidikan, jaminan usaha, jaminan sandang pangan, dan papan. Semua pasti cukup jika dikelola dengan SDM yang memiliki keinginan berbuat yang terbaik dan diawali dengan niat baik.

Indonesia Anah Airku sampai kapan pun tetap Tanah Airku dan tanah airku, bukan milik asing, bukan milik kaum imprealis. Karena itu, Indonesia harus dikelola putra-putri yang terbaik.

Sampai kapan pun di sini, aku lahir dan di besarkan. Di sinilah aku ingin dikembalikan ke bumi Indonesia. Bagimu negeri kami berjanji, bagimu negeri kami berbakti, padamu negeri kami mengabdi. Bagimu negeri, jiwa raga kami.

Sepenggal lirik lagu inilah yang harus kita kuatkan dalam jatidiri anak-anak Indonesia. jadikanlah Pancasila sebagai falsafah Hidup jadikanlah UUD 1945 sebagai landasan konstitusi yang adil. jadikanlah Bhinneka Tunggal Ika sebagai landasan berpikir kebersamaan tanpa pembedaan suku, adat, ras, dan agama. Semua untuk satu Indonesia.

Bersatulah dalam wadah NKRI yang sesuai dengan konsep Trisakti Bung Karno, Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno.

Dalam Pidato Trisakti pada 1963 menegaskan:
1. Berdaulat secara politik
2. Berdikari secara ekonomi
3. Berkepribadian secara sosial budaya.

Selamat HUT Ke-69 Negara Kesatuan Republik Indonesia.

2

Penulis : Hairil Anuar

Rate this item
(0 votes)
Go to top