Puasa: Etos dan Etis

detak.co.id - Ada respon yang berbeda ketika seorang muslim memasuki bulan Ramadhan. Respon ini sangat mungkin dipengaruhi oleh tingkat keimanan seseorang. Kalau diidentifikasi secara sederhana, respon ini setidaknya ada tiga. Ada yang terpaksa, ada yang biasa saja dan ada yang senang. Terpaksa karena menganggap puasa sebagai beban dan harus ikut mayoritas muslim dilingkungannya yang berpuasa, tanpa bisa memiliki pilihan lain karena memang tidak ada pilihan kecuali berpuasa. Ada yang biasa saja karena sudah terbiasa berpuasa di bulan Ramadhan, tidak ada beban dalam berpuasa namun juga tidak ada semangat yang berlebih untuk menjalani puasa ramadhan. Terakhir ada juga yang senang, karena berpandangan bulan ramadhan sebagai bulan unggul untuk melakukan ibadah yang dapat meningkatkan iman dan lebih dekat dengan Al-Haq.

Respon yang pertama, dalam praktek berpuasanya ada etos menjalankan puasa hanya karena ada perintah atau sekedar untuk menggugurkan kewajiban, belum ada kesadaran yang berlebih bahwa puasa dapat menjadi tangga menemui Tuhannya. Respon yang kedua, dalam praktek berpuasanya sudah ada kesadaran bahwa puasa bukan hanya memenuhi perintah namun etos yang ada belum mampu melahirkan kesadaran etis sebagai manusia yang beragama dan berketuhanan.

Respon yang terakhir, dalam praktek berpuasanya dipenuhi dengan harapan bahwa apa yang dilakukannya dapat mengantarkan dirinya untuk menemui Tuhan nya dan mampu melahirkan kesadaran etis beragama dan berketuhanan. Dalam respon ketiga inilah etos berpuasa melahirkan kesadaran etis.

Kesadaran etis yang dimaksud disini adalah kesadaran seseorang yang selalu merasakan kehadiran Allah SWT dalam dirinya dimanapun dia berada. Lebih jauh kesadaran etis ini juga dapat dipahami bahwa Allah SWT merupakan sahabat. Syekh Nawawi al-Bantani dalam Maroqil Ubudiyah ketika mengurai adab bergaul dengan Allah SWT menyebutkan bahwa Allah SWT adalah sahabat yang tidak pernah meninggalkanmu, baik saat engkau berada dirumah, dalam perjalanan, saat engkau tertidur dan terjaga bahkan saat hidup atau mati. Dia adalah Tuhanmu, penolongmu dan penciptamu. Selanjutnya Syekh Nawawi al Bantani mengutip hadis qudsi yang menyebutkan bahwa Allah SWT berfirman "Aku adalah teman duduk orang yang menyebut-Ku".

Dalam uraian berikutnya, Syekh Nawawi al-Bantani menjelaskan seandainya engkau mengenal Allah SWT dengan sebenar-benarnya niscaya engkau akan menjadikannya sebagai sahabat dan menjauhi selain-Nya. Seorang penyair berkata dalam bentuk Bahrul Khafif:

Sejak aku mengenal Tuhan
Aku tidak mengenal yang lain
Begitu pula selain Dia
Adalah terlarang bagi kami
Sejak aku berkumpul, aku takut berpisah dengan-Nya
pada saat ini aku telah sampai dan bersama-Nya.

Mampukah puasa kita dibulan Ramadhan ini melahirkan kesadaran etis, baik saat ramadhan maupun sesudah Ramadhan. Semua itu kembali kepada diri kita, apabila belum ada, mari kita mulai.
Wallahu'alamu bimurodihi

(Penulis : Nurdin Sibaweh)

Rate this item
(0 votes)
Go to top