Tiga Fase Ramadhan dan Spirit Beribadah

detak.co.id - Terlepas masih ada perdebatan mengenai status hadits yang menjelaskan tiga fase ramadhan (rahmat, magfirah, dan itqumminannar), saya ingin tetap merujuk nya dalam rangka memotivasi diri untuk meningkatkan amal ibadah. Artinya kalau kita mengandaikan di bulan ramadhan ini ada limpahan rahmat, magfirah dan akan dibebaskan dari api neraka, namun langsung atau tidak langsung mampu mendorong kita meningkatkan amal ibadah, maka tentu saja hal tersebut merupakan sesuatu yang positif. Sampai disini, kita memang harus segera meng-epoche bahwa bahwa rahmat, magfirah dan dibebaskan dari api neraka tersebut hanya ada di bulan Ramadhan, agar kita tidak terjebak apa yang disebut Prof. Fauzul Iman, Rektor UIN Banten, sebagai memenjarakan Tuhan di bulan Ramadhan.

Jika menggunakan tiga fase, sebagaimana diungkapkan di atas, Ramadhan saat ini baru memasuki fase pertama atau fase rahmat. Suatu fase dimana Allah SWT memberikan kasih sayang dengan segala maha kasih nya dan sayangnya kepada setiap muslim - beriman yang melaksanakan ibadah puasa ramadhan. Rahmat sendiri bukanlah 'barang' murah karena tidak setiap manusia diberikan rahmat oleh Allah SWT. Dalam QS.Fathir ayat 2 disebutkan bahwa "apa yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya, dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskan nya sesudah itu. Dan Dialah yang maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." ketika awal ramadhan disebut fase rahmat, maka diharapkan Ummat Islam berbondong-bondong menghampiri ramadhan untuk menjemput dan menerima rahmat Allah SWT.

Lantas bagaimana kita melihat seseorang mendapat rahmat-Nya?. Setidaknya kita bisa melihat secara lahiriyah ketika seseorang berpuasa (dilihat secara fisik tidak makan dan minum di siang hari ramadhan), melaksanakan taraweh dan tadarus alquran serta tutur katanya baik. Secara batin, tentu setiap pribadi seseorang yang mengetahuinya, apakah dia merasa lebih tenang, nyaman dan menyadari/merasakan ada kasih sayang dan nikmat-nikmat Allah SWT.

Ramadhan merupakan bulan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya karena diberikan beberapa keunggulan atau keutamaan. Maka menjadi tidak salah jika seluruh energi kita diarahkan untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut.

Syekh Mahmud Syaltut dalam 'Al-Islam Aqidah wa Syariah' mengemukakan hikmah kekhususan Ramadhan dengan adanya kewajiban puasa antara lain karena di bulan Ramadhan itu waktu yang Allah SWT hadirkan nikmat besar yang wajib disyukuri. Nikmat yang dimaksud adalah nikmat pertama kali diturunkannya alquran kepada Nabi Muhammad SAW, dimana tidak ada keraguan di dalamnya bahwa alquran sangat ampuh untuk membersihkan hati dan meninggikan ruh.

Puasa sendiri merupakan ibadah penyucian hati, dengan asumsi selama ini hati kita dipenuhi debu- debu perusak potensi ketuhanan yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Puasa tentu saja bukan hanya dibulan Ramadhan, selain bulan Ramadhan juga ada perintah sunah berpuasa. Namun perlu diingat, bahwa puasa yang diwajibkan adalah puasa di bulan Ramadhan. Nampaknya Allah SWT memang tidak pernah berhenti memberikan kebaikan, jika umat Islam jarang berpuasa sunah maka Allah SWT kondisikan agar berpuasa dibulan Ramadhan dengan status hukum Wajib. Meskipun tentu saja logika kita akan mengatakan bahwa Allah SWT akan lebih mencintai hambanya yang melaksanakan puasa wajib dan hobi melaksanakan puasa sunah.

Apabila kita merupakan bagian dari hamba Allah SWT yang hanya mampu melaksanakan puasa wajib dibulan Ramadhan, maka gunakanlah momentum saat ini sebaik-baiknya. Segala hal yang memotivasi peningkatan ibadah kita, mari manfaatkan secara maksimal.
Wallahu alamu bimurodihi

Penulis : Nurdin Sibaweh

Ketua HISSI dan Wakil Ketua ICMI ORDA Kota Tangsel, Staf Ahli Komisi X DPR RI

Rate this item
(0 votes)
Go to top