RAMADHAN, Meriah Penuh Hikmah

Oleh : Nurdin Sibaweh

Detak.co.id Sekian respon dan ekspektasi seseorang ketika memasuki Ramadhan, karena sebelumnya telah banyak yang mendaulat Ramadhan sebagai bulan keutamaan, dan daulat itu merujuk kepada dalil-dalil agama.

Daulat Ramadhan sebagai bulan keutamaan membawa dampak yang luar biasa kepada sikap lahir dan batin, setidaknya selama bulan Ramadhan. Betapa tidak, menjelang 1 Ramadhan saja masyarakat sudah riuh dengan berbagai persiapan yang perlu dilakukan.

Secara lahiriah, datangnya Ramadhan telah merubah beberapa kebiasaan seorang muslim, seperti bangun tidur untuk sahur menjelang subuh, dan shalat taraweh setelah shalat isya, serta tidak adanya kebiasaan makan siang. Semua itu tidak terjadi kecuali dibulan Ramadhan. Bahkan perkantoran banyak yang merubah jam kerjanya dengan melakukan beberapa pergeseran, termasuk jam kerja ASN.

Namun yang tidak kalah menariknya adalah munculnya para pedagang dipinggir jalan raya dan gang-gang kecil diperkampungan yang rata-rata menyajikan menu
tradisional, meskipun ada juga yang menjual -kita sebut saja sebagai- ‘menu universal’.
Menu tradisional itu adalah makanan atau minuman khas suatu daerah tertentu seperti ketan, lontong isi kentang dan oncom, bala-bala, dan gemblong.

Sementara ‘menu universal’ adalah makanan atau minuman yang secara umum dijual diberbagai daerah seperti es kelapa, es buah, bakso, mie ayam, dan sop.

Para pedagang menu tradisional dan ‘menu universal’ ini hanya muncul ketika Ramadhan, meskipun ada sebagian yang terus bertahan karena awalnya memang pedagang makanan dan minuman ditempatnya. Kondisi seperti ini menunjukkan betapa meriahnya suasana bulan Ramadhan. Bahkan Ramadhan dapat menghadirkan hal-hal kemeriahan baru, baik dilingkungan masyarakat maupun internal keluarga. Sebagai contoh, hal ini dapat disaksikan ketika melihat anak-anak ramai berburu takjil (makanan berbuka) dan
menunggu tanda tangan imam Taraweh di mesjid, serta ketika melihat dalam satu Keluarga begitu ramai berbuka puasa di rumah makan.

Selain itu, kemeriahan dapat disaksikan ketika malam hari, dimana sangat ramai dengan suara tadarus alquran baik di mesjid, langgar maupun mushola. Suasana dan kondisi tersebut, tidak hanya menunjukkan kemeriahan namun juga penuh hikmah. Bagaimana tidak, Ramadhan menjadikan seseorang bersikap disiplin, lebih taat dalam beragama, dan merasa memiliki keterikatan spiritual dengan Tuhannya. Meskipun secara umum masih sebatas ditunjukan dalam bentuk ekspresi keagamaan.

Dikatakan ekspresi keagamaan, karena tingkat spiritualitas serta komitmen ketaatan beragama seseorang tentu hanya dirinya dan Tuhannya yang mengetahui. Lalu bagaimana mengukur tingkat spiritualitas dan komitmen ketaatannya? Lihatlah setelah Ramadhan berlalu. Wallahu ‘alamu bimurodihi.

Rate this item
(0 votes)
Go to top