Kepsek SMPN 1 Gunung Diduga Salah Gunakan BOS

Detakbanten.com KABUPATEN TANGERANG - SMPN 1 Negeri Gunung Kaler, Kabupaten Tangerang, terancam bangkrut. Hal itu akibat ulah kepala sekolahnya, yang diduga seringkali menyalahgunakan anggaran. Yendri, pegawai TU SMPN 1 Gunung Kaler mengungkapkan, ulah kepsek M Fari sudah sangat kelewatan. Semenjak menjabat sebagai kepala sekolah dua tahun lalu, kondisi sekolah sangat tidak kondusif.

"Setahu kami, kondisi tidak kondusif inin terjadi sejak, beliau (M Fari-red) menjabat kepsek di sekolah kami. Sebelumnya tidak seperti ini kok," akunya, saat jumpa pers, dengan awak media, Selasa (14/4/2015).

Dibeberkan Yendri, salah satu ulah yang menurutnya, berdampak pada kegiatan belajar mengajar yakni terkait pembayaran honor para guru honor. Seharusnya, honor 16 guru honorer harus sudah dibayarkan hingga per bulan Maret 2015.

Namun demikian guru honorer hanya mendapatkan honor hingga bulan Februari saja. Ketiadaan honor di bulan Maret, diakuinya lantaran sisa dana BOS pusat untuk kegiatan belajar mengajar dan honor guru honorer dipergunkan buat membayar hutang-hutang sekolah.

"Bulan Maret ngambil dana BOS pusat Rp75 juta, tapi yang Rp60 juta di salurkan, yang Rp15 jta entah kemana. Akibatnya kami kekurangan honor. Bagi kami honor perbulan sebesar Rp 280 ribu sangat berarti bagi kami," keluhnya.

Syukur, guru honorer lainnya menambahkan, kelakuan kepsek M Fari, juga terlihat saat pembuatan program sanitasi sekolah (Sanisek) tahun 2013 lalu. Saat itu terjadi kekisruhan terkait pembuatan 10 sanitasi sekolah.

Diketahuinya, kepsek telah mencairkan anggaran pembuatan sanitasi hampir Rp 40 juta. Uang tersebut katanya untuk pembayaran baja ringan. Namun demikian tidak berapa lama kemudian, masuk tagihan dari pengusaha baja ringan.  "Jelas kami kaget dan saling bertanya, bukannya sudah di bayar. Akibatnya terjadi kekisruhan saat itu," ungkapnya.

Lantaran sudah ditagih terus, lanjut Syukur, kepsek meminta bantuan kepada guru-guru. Entah apa yang mendasari, saat itu guru-guru bersedia membantu pembayaran hutang, dengan menyumbangkan barang berharganya. "Ada yang mengasih cincin, gelang, atau benda berharga lainnya. Namun demikian, ternyata setelah dibantu, kepsek tidak berubah perilakunya. Saat ini hutang sekolah di luar masih ada. Sekitar bulan maret lalu, kalau tidak salah, sekitar Rp 20 juta, ngga tahu kalau sekarang," bebernya.

Syaeful Milah, seorang dewan guru menegaskan, akibat kelakuan kepsek yang dinilai tidak berusaha menciptakan kondisi yang nyaman, membuat suasana mengajar sudah tidak nyaman.

Betapa tidak, jelang UN tanggal 5 Mei nanti, sekolah lagi kebingungan mencari uang. Pasalnya baik BOS pusat ataupun BOS daereh, semuanya telah habis. "Biasanya, kepsek kalau begini, meminta bantuan bendahara sekolah untuk mencari uang pinjaman. Kalau begini terus, menganggu siswa kelas IX yang UN," tandasnya.

Saat coba dimintai tanggapan, kepsek M Rifai, tidak bisa dihubungi. Melalui telepon selulernya, terdengar nada masuk, namun tidak dijawab.

Rate this item
(0 votes)
Go to top