Bank Keliling Kian Marak Di Pandeglang, Pemda Diharapkan Jangan Tutup Mata

detakbanten.com Pandeglang - Bank keliling (Bankil), begitulah masyarakat menyebutnya, ada juga yang menyebutnya Kosipa atau Koperasi simpan pinjam.

Entah, mereka itu sebenarnya Bank atau Koperasi, yang pasti keberadaannya kini, kian hari kian marak di Kabupaten Pandeglang.

Sesuai namanya, mereka berkeliling dari wilayah kota hingga ke pelosok desa. Mereka memiliki ciri yang khas biasanya berkelompok, menggunakan "motor besar", jaket hitam plus sarung tangan.

Layaknya usaha sebuah Bank, mereka mencari nasabah. Target sasarannya adalah masyarakat kecil, seperti usaha warungan, ibu- ibu rumah tangga dan lainnya.

Cukup hanya dengan menyerahkan fotocopy KTP (kalau ada, kalau tidak ada juga tak apa), maka nasabah pun bisa mendapatkan pinjaman dengan "lunak".

Ada yang menuding, Bank keliling tidak ubahnya dengan rentenir. Namun begitu, tidak sedikit pula orang yang merasa "terbantu" dengan kehadirannya terutama dalam memberikan fasilitas kredit tanpa berbelit.

Seperti diceritakan seorang pemilik usaha warungan di kelurahan karaton, Kecamatan Majasari. Siti Khadijah, sebut saja namanya demikian. Menurut pengakuannya, dia telah 2 tahun lebih menjadi pelanggan setia Bank Keliling. Menurutnya dia terpaksa menjadi nasabah Bankil karena membutuhkan modal untuk menambah usaha dagangnya, selain itu dia juga menilai prosesnya mudah dan cepat.

"Sebenarnya berat pinjam uang di Bank Keliling, ditagihnya tiap hari udah gitu kalau lambat bayar bunganya tinggi, tapi ya sudah resiko," ungkap wanita yang telah tidak bersuami ini.

Lain lagi dengan Zulaeha, seorang ibu rumah tangga. Suaminya tidak memiliki pekerjaan tetap, sehingga untuk kebutuhan hidup sehari- hari terkadang dirinya harus meminjam uang dari Bank keliling.

"Buat kebutuhan sehari- hari saja paling saya pinjam 500 ribu- 1 juta, kalau suami dapat rejeki biasanya langsung dilunasi. Pusing tiap hari ditagih paling saya ngumpet kalo tidak ada uang," bebernya.

Nasuhi Anas, dari Masyarakat Dialog Pandeglang, ketika diminta tanggapannya mengatakan maraknya fenomena Bank keliling/ Kosipa, dinilainya tidak terlepas dari ketidakberdayaan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam memberikan fasilitas modal kepada para pengusaha kecil dan menengah.

"Ini efek domino dan merupakan konsekuensi logis dari lemahnya kebijakan Pemda," Katanya.

"Jelas ini menunjukan masih lemahnya peran Pemda dalam mendorong dan mengembangkan UKM. Kehadiran Bank keliling akhirnya dijadikanl model alternatif untuk mendapatkan tambahan modal oleh masyarakat," tandasnya.

Nasuhi mengaku dirinya merasa prihatin atas kondisi tersebut. Menurutnya persoalan Bankil harus disikapi secara serius. Dia menyayangkan Pemda Pandeglang sejauh ini terkesan masa bodoh dan tutup mata.

"Kita mengharapkan, Pemda melalui dinas terkait mengawasi Bankil. Pemda jangan tutup mata, tapi harus pro aktif," tandasnya.

"Minimal ada sosialisasi mengenai Koperasi, ini penting jangan sampai masyarakat menjadi korban," tambahnya.

Sementara itu, pantauan Detakbanten.com baru- baru ini, dibeberapa tempat kehadiran Bankil sudah mulai dianggap meresahkan. Seperti di Desa Campaka dan Desa Ciputri, Kecamatan Kaduhejo, warga setempat memasang spanduk yang isinya menolak kehadiran Bank keliling beroperasi di wilayah mereka.

Rate this item
(0 votes)
Go to top