Pilkada Serentak 2015, Perempuan Berjaya Di Banten

detakbanten.com Pandeglang - Tiga Calon Bupati dan walikota berjenis kelamin perempuan, berdasarkan hitungan cepat KPUD, dipastikan menang dalam Pilkada yang digelar secara serentak tahun 2015, di provinsi Banten.

Irna Narulita perkasa di Kabupaten Pandeglang, Tatu Chasanah berjaya di Kabupaten Serang dan Airin Rachmi Diany menjadi primadona di kota Tangerang Selatan.

Dari 4 Kabupaten/ Kota yang menggelar Pilkada di Banten, hanya kota Cilegon yang tidak ada calon walikota dari kaum hawa.

Fenomena unggulnya calon pimpinan daerah dari kaum Perempuan atas laki- laki tersebut ditanggapi beragam oleh beberapa anggota masyarakat.

Seperti pendapat Ketua GP Anshar Kabupaten Pandeglang, Nunu Ibnu Said, yang menyebut masyarakat banten dinilainya telah "melek" demokrasi dan sudah bisa membedakan antara hablu minannas dan hablu minallah.

"Ini fenomena bahwa masyarakat banten bisa menerima khasanah berdemokrasi," katanya, kepada Wartawan, Selasa (15/12/2015).

"Hakikat kepala daerah bukan sebagai imamah atau pemimpin dalam agama, tetapi terbatas dalam sendi bernegara. Artinya pemeluk islam di banten bisa memahami agama secara dewasa," tambahnya.

Lain lagi pendapat Yuliadi, pemerhati sosial dan budaya dari Lembaga Kajian Jati Bangsa, menilai fenomena diatas merupakan sesuatu yang unik terjadi di sebuah daerah yang dikenal religius dan kental dengan unsur jawaranya.

"Ini unik, di Banten yang terkenal religius dan jawaranya, pemimpinnya nanti banyak dari kalangan perempuan," katanya.

Sambil berseloroh dia bercerita, sekitar tahun 1980-an, dalam masyarakat Pandeglang dikenal sebuah ungkapan atau istilah "Cilikcikang", dimana ungkapan tersebut biasanya diberikan kepada anak laki- laki yang kalah oleh anak perempuan, baik dalam sebuah ajang permainan atau perkelahian.

"Ini mengingatkan saya pada masa kecil. Dulu kalau ada anak laki- laki yang kalah atau nangis oleh anak perempuan, pasti dibilang Cilikcikang atau Lalaki eleh ku bikang (Laki-laki kalah oleh perempuan)," tuturnya.

Namun kata Yuliadi, fenomena "keok" nya kaum laki- laki oleh perempuan di Banten, sudah diprediksinya dari jauh hari.

"Kita semua tahu, siapa itu Airin, Tatu dan Irna. Begitupula dengan Iti (Bupati Lebak), dibelakang mereka semua adalah pemain (politik) lama didaerahnya masing- masing," katanya.

"Suka tidak suka ini adalah pilihan masyarakat. Dan sebagai bagian dari masyarakat tentu kita berharap mereka yang terpilih bisa membawa amanah dengan baik untuk rakyat banten umumnya," tutupnya.

Rate this item
(0 votes)
Go to top