Rencana Pembangunan Duplikat Mesjid Nabawi, Menuai Ragam Pendapat

ilustrasi ilustrasi

detakbanten.com PANDEGLANG - Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang, membangun mesjid duplikat dari mesjid Nabawi Madinah, Kerajaan Saudi Arabia menuai beragam tanggapan dikalangan masyarakat.

Sebelumnya, Kepala dinas Pariwisata Pemuda dan olahraga (Disparpora), Cecep Juanda mengatakan bahwa Pemkab telah menganggarkan dana hampir Rp. 2 milyar untuk pengadaan lahannya.

"Dana pembebasan lahan untuk pembangunan miniatur mesjid nabawi sudah dianggarkan. Juga untuk lokasinya sudah ditetapkan, yaitu antara Polsek Mandalawangi sampai kantor kecamatan," kata Cecep, beberapa hari lalu kepada Wartawan.

Cecep menjelaskan, dipilihnya Mandalawangi sebagai lokasi dikarenakan daerah tersebut sangat cocok untuk dijadikan tempat istirahat bagi para wisatawan baik yang hendak berkunjung diwilayah sekitar maupun yang akan berwisata ke pantai.

"Mandalawangi sangat strategis, sebagai jalur wisata sampai ke pantai Carita. Alamnya dikelilingi gunung dan bukit, kita harapkan nanti para wisatawan bisa singgah di mesjid nabawi ini," jelasnya.

Edi Sumantri, warga Desa Nembol mengaku bangga bercampur haru, manakala mendengar rencana pembangunan miniatur mesjid nabawi yang dianggapnya memiliki nilai historis sangat tinggi bagi umat muslim di seluruh dunia tersebut.

"Sebagai warga Mandalawangi tentu saya senang sekali kalau mesjid nabawi itu dibangun disini. Saya berharap pembangunannya bisa cepat dilaksanakan," kata pria paruh baya yang berprofesi sebagai sopir angkot ini.

Sementara itu Exsecutive director LSM Mahatidana, Anda Suhanda menekankan, agar Pemkab Pandeglang tidak gegabah dalam menentukan titik lokasi. Menurutnya, dalam membangun sebuah mesjid perlu diperhatikan jumlah penduduk diwilayah sekitar begitu juga dengan jarak dari pemukiman ke tempat mesjid berada.

"Awas jangan sampai nanti mesjid itu hanya untuk para wisatawan, harus juga bisa dipakai oleh penduduk disitu. Pendirian mesjid itu ada aturannya didalam kitab fiqih. Intinya jangan sampai nanti mesjid dibangun dengan dana besar tapi menjadi mubazir karena penggunanya sedikit," tandasnya.

"Ulah (jangan) gagabah ngebangun mesjid mah, apalagi ini membawa embel- embel mesjid nabawi al- munawaroh," sambungnya.

Selain itu Suhanda juga menegaskan, agar rencana pembangunan mesjid yang oleh beberapa kalangan dinilai ambisius ini tidak hanya sekedar demi kepentingan proyek semata.

"Saya peringatkan jangan main- main, bisi kawalat (takut kualat)," tandasnya lagi.

Lain lagi pendapat Nasuhi Anas, dari Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Jati Bangsa. Menurutnya, Mesjid Nabawi pada zaman Nabi Muhammad dengan yang sekarang sudah jauh berbeda baik dari segi bangunannya maupun ukuran. Berdasarkan dari literatur yang ada, mesjid Nabawi Madinah telah beberapa kali mengalami pemugaran dan perluasan.

"Saya belum tahu, maksudnya Pemkab membuat duplikat mesjid nabawi itu untuk apa. kalo tidak salah dulu rencananya mau di pantai Carita kan?" katanya, Selasa (1/3/2016).

Lebih lanjut katanya, jika pembuatan mesjid Nabawi ditujukan untuk menarik wisatawan, dana dari APBD tersebut lebih baik digunakan untuk pengembangan kawasan wisata yang sudah ada atau dipakai untuk membuka kawasan wisata baru.

"Membangun mesjid untuk menarik wisatawan, saya pikir tidak realistis dan bukan merupakan pilihan yang cerdas," ujarnya.

Menurut Anas yang juga merupakan anggota dari Masyarakat Dialog Pandeglang Kota (MDPK) ini, di Kabupaten Pandeglang segala potensi wisata telah tersedia tinggal pengelolaannya yang harus dimaksimalkan.

"Di sebelah utara kita punya daerah pegunungan, di selatan banyak pantai dan di tengah ada danau. Mau wisata religi, situs budaya, seni bedug/ debus dan lainnya semua ada di Pandeglang," pungkasnya.

Rate this item
(1 Vote)
Go to top