>

Keluarga Maesaroh Butuh Bantuan Untuk Berobat

Keluarga Maesaroh Butuh Bantuan Untuk Berobat Keluarga Maesaroh Butuh Bantuan Untuk Berobat

detakserang.com - SERANG, Sungguh miris kehidupan keluarga Maesaroh. Menghirup udara di keramaian dan kemegahan Ibukota Banten, justru tidak menikmatinya. Sebaliknya malah menderita secara ekonomi.

Kondisi perekonomian inilah menyebabkan putranya bernama Wahyu Maulana menderita gizi buruk. Bocah berusia 5 tahun ini hanya memiliki berat badan 6 kilogram.

Keluarga Maesaroh tidak dapat berbuat banyak untuk mengentaskan Wahyu dari penderitaan. Sang ayah Wahyu Maulana yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan di Jakarta. Penghasilannya pun hanya cukup untuk makan sehari hari.

Penderitaan Wahyu semakin berat. Karena Sang Ibu yang saat ini tengah dirawat di rumah sakit. Ia akan menjalani operasi paru-paru serta kanker payudara.

Wahyu terpaksa tinggal bersama bibinya, Nafisah (45), warga Kampung Taman Jaya RT/RW 015/05, Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Taktakan, Kota Serang.

Sang Ayah tidak bisa merawat Wahyu lantaran menjaga ibunya yang sedang terbaring di rumah sakit.
Di kediamanan bibinya, Kamis (20/2), Wahyu hanya bisa terbaring. Tatapan matanya kosong dengan raut muka menahan rasa sakit.

Nafisah menceritakan, Wahyu menderita kurang gizi sejak usia tujuh bulan. Bahkan, saat itu Lana, panggilan Wahyu Maulana, belum bisa tengkurap layaknya bayi lainnya.

"Lana pernah berobat ke dokter spesialis anak, 4 tahun lalu. Hasilnya, ada cairan di dalam otaknya," tutur Nafisah.
Satu-satunya jalan adalah operasi. Lagi-lagi terbentur dan terjegal masalah biaya. Lana batal dibawa ke dokter dan niat berobat hanya sekadar keinginan.

Orangtua Lana benar-benar tidak bisa berbuat terbaik untuk kesembuhan bocah tersebut. Semenjak sebulan terakhir, ayah Lana tidak bekerja. Akibatnya, kehidupan keluarga miskin tersebut semakin sulit.
"Saya selalu menunggu ibunya Lana di rumah sakit. Jadi saya tida bekerja lagi," katanya.

Ia mengaku sering mendapat bantuan dari tetangga untuk makan. Terkadang jua meminta bantuan dari tetangga sekitar.
"Saya belum pernah mendapat bantuan dari pemerintah kota," tambahnya.

Beban keluarga Maesaroh semakin berat ketika menghadapi kenyataan ini. Betapa tidak, ia belum mengantongi kartu BPJS . Sehingga sangat mempersulit memenuhi kewajiban administrasi di rumah sakit untuk biaya operasi. Sedangkan kartu Jamkesmas belum berlaku untuk menjalani rawat inap di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Oh... Maesaroh, nasibmu malang nian. (mow)

Rate this item
(0 votes)
Go to top