Detak.co.id TANGERANG — Pembangunan Direct Toll Access Bitung KM 25 diduga molor dari jadwal yang seharusnya. Kondisi tersebut berdampak serius terhadap kerusakan jalan tol Jakarta–Tangerang serta kemacetan panjang yang setiap hari dirasakan oleh masyarakat pengguna jalan tol.
Aliansi Masyarakat Peduli Pembangunan (AMPP) menilai, sejak proyek tersebut diresmikan pada 10 Juli, hingga saat ini belum menunjukkan penyelesaian yang jelas. Akibatnya, ruas tol di sekitru KM. 22-25 mengalami banyak kerusakan dan memicu antrean kendaraan yang panjang, terutama pada jam sibuk.
Alamsyah, salah satu perwakilan LSM yang tergabung dalam AMPP, menyampaikan bahwa kondisi seperti ini jelas sangat merugikan masyarakat.
Jarak tempuh yang seharusnya lebih cepat justru menjadi jauh lebih lama. Setiap hari pengguna jalan tol harus menghadapi kemacetan panjang dan jalan rusak. Ini jelas sangat merugikan masyarakat, termasuk kami yang juga merupakan pengguna jalan tol Jakarta–Tangerang,” ujar Alam
AMPP telah bersurat kepada Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan meminta dilakukan audiensi dan diskusi guna mengklarifikasi permasalahan yang selama ini dirasakannya masyarakat.
Dalam surat tersebut, AMPP juga meminta Dirjen Bina Marga memanggil Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) serta melibatkan Jasa Marga/JMTO untuk duduk bersama dalam forum audiensi.
Kami mengajak Dirjen Bina Marga karena setahu kami, merekalah yang mengeluarkan perizinan pembangunan Direct Toll Access Bitung KM 25. Tentu ini tidak terlepas dari peran BPJT dan Jasa Marga/JMTO. Mereka semua harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi di ruas Tol Jakarta–Tangerang,” tegas Alam










