detak.co.id TANGSEL-Distribusi air bersih bagi warga terdampak kemarau di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus berlangsung. Hingga Senin (12/10/2026), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel mencatat total air bersih yang telah disalurkan mencapai 2.093.000 liter.
“Sebaran dampak kemarau telah meluas. Sudah ada 49 titik kekeringan,” ungkap Sekretaris BPBD Kota Tangsel, Essa Nugraha, saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan data BPBD, dampak kemarau telah dirasakan 2.485 kepala keluarga (KK) atau 8.352 jiwa. Mereka tersebar di sembilan kelurahan di wilayah Kota Tangsel.
Essa menjelaskan, Kecamatan Setu menjadi wilayah dengan sebaran titik kekeringan terbanyak. Wilayah terdampak meliputi Kelurahan Keranggan, Babakan, Muncul, dan Bakti Jaya.
Di Kelurahan Muncul, misalnya, terdapat empat titik permukiman warga yang terdampak kekeringan, yakni di RT 001/RW 001, RT 004/RW 002, RT 003/RW 006, dan RT 006/RW 002.
Sementara itu, di Kecamatan Serpong, dampak kemarau terjadi di Kelurahan Serpong, Buaran, dan Lengkong Gudang. Di Kelurahan Serpong, titik terdampak berada di RT 006/RW 004, sedangkan di Kelurahan Lengkong Gudang berada di RT 001/RW 002.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, pasokan air bersih diperoleh dari PT Tirta Traya Cisadane yang bekerja sama dengan Perumda Tirta Kerta Raharja, badan usaha milik daerah (BUMD) Pemerintah Kabupaten Tangerang.
Essa memastikan penyaluran air bersih masih terus dilakukan. Dengan distribusi yang berlanjut, volume air bersih yang disalurkan kepada warga terdampak diperkirakan terus bertambah.
“Tentunya jumlah air bersih yang didistribusikan untuk warga terdampak kemarau bertambah,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, warga mengaku terbantu dengan bantuan air bersih dari pemerintah. Paryati, warga RT 004/RW 002, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, menyampaikan terima kasih atas distribusi air bersih yang rutin dilakukan Pemkot Tangsel.
Menurutnya, bantuan tersebut dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga untuk membeli air bersih selama musim kemarau.
“Ketimbang beli, duitnya enggak sedikit,” ujarnya singkat.
Paryati mengatakan, air bersih yang diterimanya dapat digunakan untuk kebutuhan memasak. Setiap mengantre distribusi air, ia membawa enam wadah, mulai dari ember dan galon hingga bak penampungan, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
“Sangat kebantu buat kita yang kerasa pas musim kemarau kayak gini,” ucapnya sembari memindahkan galon dari keran toren penampungan air. (Dra)











