detak.co.id TANGSEL- Persoalan sampah perkotaan yang belum tertangani secara optimal di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mendorong warga mencari solusi di tingkat lingkungan. Di tengah keterbatasan sistem pengangkutan dan tempat pembuangan akhir, warga Cluster Maribaya, Vila Dago Pamulang, memilih mengelola sampahnya sendiri melalui Bank Sampah Gemah Ripah.
Bank sampah yang sempat vakum selama pandemi Covid-19 itu kembali aktif sejak enam bulan terakhir. Namun, partisipasi warga masih menjadi tantangan. Dari sekitar 150 kepala keluarga, baru sekitar 35 persen yang terlibat aktif dalam pengelolaan sampah.
Ketua RT 04/20 Yonas Eka Putra mengatakan, inisiatif tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan lingkungan permukiman terhadap pengangkutan sampah ke luar kawasan. “Kami ingin sampah selesai di lingkungan sendiri, baik organik maupun nonorganik,” kata Yonas, Sabtu (17/1/2026).
Sampah nonorganik dikumpulkan dan dikelola melalui bank sampah, sementara sampah organik diolah menggunakan komposter untuk dijadikan pupuk. Pengelolaan berbasis sumber ini diterapkan melalui skema pilot project dengan target dalam satu tahun kawasan permukiman tidak lagi membuang sampah ke tempat pembuangan akhir.
Upaya warga tersebut mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangsel berupa bantuan 10 unit tong komposter. Bantuan ini diharapkan dapat memperkuat pengolahan sampah organik, yang selama ini menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah rumah tangga.
Ketua RW 20, Karyadi, menuturkan bahwa persoalan utama pengelolaan sampah bukan semata soal fasilitas, melainkan perubahan perilaku warga. Karena itu, Bank Sampah Gemah Ripah juga difungsikan sebagai ruang edukasi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir berbasis komunitas.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Perubahan perilaku tidak bisa instan atau dipaksakan, tetapi harus dibangun melalui sistem yang memudahkan dan konsisten,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Tangsel dari Fraksi PKB, Muthmainnah, menilai inisiatif warga tersebut sejalan dengan upaya pengurangan sampah dari sumbernya. Ia mendorong agar pengelolaan sampah mandiri di tingkat lingkungan mendapat dukungan kebijakan agar berkelanjutan.
“Pengelolaan sampah berbasis komunitas seperti ini penting untuk mengurangi beban kota. Jika didukung secara kebijakan, bisa menjadi model percontohan di wilayah lain,” singkat Muthmainnah.




















