detak.co.id, OPINI -Empat tahun lalu, pada 1 Oktober 2022, sepak bola Indonesia mengalami salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah. Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, menelan 135 korban jiwa dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, insan sepak bola, dan masyarakat Indonesia. Empat tahun kemudian, tanggal tersebut kembali menjadi momentum untuk mengenang para korban sekaligus menegaskan komitmen bersama untuk terus membangun sepak bola Indonesia yang lebih profesional, berprestasi, dan aman untuk seluruh penonton.
Tepat pada 1 Oktober 2026, empat tahun setelah tragedi Kanjuruhan, Timnas Indonesia melewati malam bersejarah di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Skuad Garuda mengalahkan Bangladesh 9-2 dan memastikan diri melaju ke final FIFA ASEAN Cup 2026 melalui drama hingga menit-menit terakhir.
Sebelum pertandingan dimulai, semua yang berada di dalam SUGBK mengheningkan cipta selama satu menit untuk mengenang 135 korban tragedi Kanjuruhan. Setelah itu, perjuangan Timnas Indonesia dimulai dalam sebuah laga yang tidak hanya menentukan tiket ke final, tetapi juga menuntut mentalitas luar biasa karena membutuhkan kemenangan dengan margin besar.
Indonesia akhirnya menang 9-2. Namun kemenangan tersebut tidak datang dengan mudah. Ketika pertandingan memasuki penghujung laga, Indonesia masih membutuhkan tambahan gol untuk memastikan posisi teratas Grup A. Kevin Diks mencetak gol kedelapan pada menit ke-96, sebelum Baker mencetak gol kelimanya pada menit ke-97.
Gol pada menit ke-97 tersebut menjadi penentu. Indonesia dan Malaysia sama-sama mengoleksi tujuh poin dan memiliki selisih gol +9. Namun, Indonesia berhak menjadi juara Grup A karena mencetak lebih banyak gol, yakni 11 gol berbanding sembilan gol milik Malaysia.
Perjalanan Indonesia menuju final juga diwarnai sejumlah keputusan kontroversial yang menjadi sorotan, terutama dalam pertandingan melawan Malaysia pada 28 September.
Dalam laga yang berakhir 0-0 tersebut, gol Justin Hubner dianulir karena offside tipis. Indonesia kemudian harus bermain dengan 10 pemain selama lebih dari satu jam setelah kartu kuning Thom Haye berubah menjadi kartu merah setelah intervensi VAR.
Situasi kembali terjadi saat menghadapi Bangladesh ketika gol Ole Romeny dianulir karena offside.
Keputusan-keputusan tersebut menjadi semakin krusial karena persaingan Grup A berlangsung sangat ketat dan akhirnya ditentukan hingga menit-menit terakhir. Setiap gol dan setiap keputusan wasit memiliki konsekuensi besar terhadap posisi akhir klasemen.
Drama perjalanan Indonesia ke final tersebut turut mendapat perhatian media olahraga Italia, Corriere dello Sport. Dalam artikelnya, media tersebut menyoroti bagaimana perjalanan Indonesia ditentukan oleh banyak hal penting, termasuk keputusan wasit dalam laga melawan Malaysia dan Bangladesh.
Corriere dello Sport juga menggambarkan perkembangan pesat Timnas Indonesia sebagai bagian dari perubahan besar dalam sepak bola nasional. Media Italia tersebut menempatkan keberhasilan Indonesia mencapai final sebagai bagian dari proses transformasi sepak bola Indonesia yang terus berkembang, dengan meningkatnya daya saing tim nasional serta semakin besarnya perhatian publik terhadap sepak bola.
Sorotan tersebut juga tidak terlepas dari peran Ketua Umum PSSI Erick Thohir dalam mendorong transformasi sepak bola Indonesia.
Erick Thohir menjadi Ketua Umum PSSI sejak Februari 2023, empat bulan setelah tragedi Kanjuruhan. Sejak saat itu, transformasi sepak bola nasional menjadi salah satu fokus utama yang terus didorong melalui pembenahan tata kelola, profesionalisme, penguatan tim nasional, pengembangan pemain usia muda, serta pemanfaatan potensi pemain diaspora Indonesia.
Dalam wawancara sebelumnya dengan Corriere dello Sport, Erick menggambarkan Indonesia sebagai “raksasa yang sedang tidur”, dengan potensi sepak bola yang sangat besar namun membutuhkan pengelolaan yang lebih profesional dan transparan. Ia juga menekankan bahwa tragedi Kanjuruhan menjadi salah satu titik balik penting dalam pembenahan sepak bola Indonesia.
Menurut Erick, keberhasilan mencapai final tepat empat tahun setelah tragedi Kanjuruhan memberikan makna tersendiri.
“Empat tahun lalu, kita kehilangan 135 saudara kita di Kanjuruhan. Sebelum pertandingan kita mengheningkan cipta untuk mengenang mereka, lalu para pemain berjuang sampai menit ke-97 untuk membawa Indonesia ke final. Bagi saya, ini bukan sekadar tentang menang dan kalah. Ini tentang bagaimana sepak bola Indonesia belajar dari masa lalu dan terus bergerak maju. Kita harus menjaga ingatan tentang Kanjuruhan sekaligus memastikan sepak bola Indonesia yang kita bangun hari ini jauh lebih profesional, membanggakan dan menjamin keamanan dan kenyamanan para suporter yang mendukung langsung timnas ke stadion,” ujar Erick.
Di level tim nasional, PSSI juga membuka ruang lebih luas bagi pemain keturunan Indonesia yang berkembang di berbagai kompetisi dan akademi sepak bola Eropa. Kehadiran pemain seperti Kevin Diks, Justin Hubner, Calvin Verdonk, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Ole Romeny, serta pemain muda seperti Mitchell Baker menjadi bagian dari upaya membangun skuad yang semakin kompetitif.
Indonesia selanjutnya akan menghadapi Thailand di partai final FIFA ASEAN Cup. (HP/Red)











