detak.co.id, TANGSEL-Jangan kaget jika melihat pria berbadan tegap, berotot dan terbiasa berjibaku di lapangan sepak bola tiba-tiba tampil mengenakan daster emak-emak. Bukan sedang syuting sinetron, apalagi salah kostum.
Mereka sedang bertanding dalam Liga Daster 2026. Turnamen unik tersebut digelar tim sepak bola tarkam DGR di lapangan sepak bola Denis Gaida Raska (DGR), RT 03/05, Parigi Baru, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin sore (17/8/2026).
Puluhan pemain yang mayoritas kaum adam datang bersama pasangan masing-masing. Namun kali ini bukan pasangan yang menjadi pusat perhatian. Para pemainlah yang justru tampil menjadi ‘emak-emak’ dadakan dengan mengenakan daster aneka model.
Kalau biasanya mereka tampil gagah dengan jersey, celana pendek dan sepatu bola, di Liga Daster 2026 penampilannya berubah total. Daster yang biasanya identik dengan emak-emak di rumah kini harus dibawa berlari, menggiring bola hingga berebut kemenangan.
Hasilnya? Jangan berharap pertandingan berlangsung seperti laga sepak bola profesional. Gerakan para pemain menjadi serba terbatas. Ada yang kesulitan berlari, ada yang dasternya bikin langkah pendek, bahkan tak sedikit pemain yang harus tersungkur mencium rumout karena kehilangan keseimbangan. Alih-alih tegang, penonton justru dibuat tertawa melihat aksi para pemain.
Liga Daster 2026 diikuti tiga tim yang berjibaku memperebutkan piala bergilir, piala tetap serta hadiah uang tunai dengan total mencapai Rp23,75 juta. Ketiga tim tersebut yakni Denis, tim Gaida dan tim Raska.
Dari hasil pertandingan, hadiah juara pertama sebesar Rp10 juta di raih tim Denis, juara kedua Rp7,5 juta di raih tim Gaida dan juara ketiga Rp5 juta di raih tim Raska. Uniknya, hadiah uang tersebut disusun menyerupai buket sehingga semakin menambah kemeriahan suasana.
Panitia juga menyediakan penghargaan khusus bagi pemain dengan kategori busana emak-emak tercantik dan terburuk. Untuk kategori busana emak-emak tercantik, penghargaan diraih Cristian Carrasco. Mantan pemain yang pernah malang melintang di sejumlah klub Liga Indonesia tersebut berhak membawa pulang hadiah uang tunai Rp750 ribu.
Sementara kategori busana emak-emak terburuk diraih Indra, pesepak bola tarkam asal Parigi Lama. Meski dinobatkan sebagai ‘emak-emak terburuk’, Indra tetap pulang membawa hadiah uang tunai Rp 500 ribu yang disusun dalam bentuk buket.
Ketua Panitia Liga Daster 2026, Eryani, mengatakan turnamen tersebut digelar untuk menyemarakkan peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia sekaligus memberikan hiburan bagi masyarakat Parigi Baru dan sekitarnya.
“Tujuannya untuk menghibur masyarakat saja agar perayaan HUT RI tahun ini di wilayah kami semakin meriah,” kata Eryani di lapangan sepak bola DGR.
Menurut Eryani, Liga Daster merupakan gagasan suaminya, Michael Ciok, yang juga pemilik klub sepak bola tarkam DGR. Ia mengatakan, Liga Daster 2026 merupakan penyelenggaraan kedua pada tahun ini. Antusiasme masyarakat yang datang menyaksikan pertandingan pun cukup tinggi.
“Ini merupakan turnamen sepak bola Liga Daster kedua yang kami selenggarakan di tahun ini. Alhamdulillah, masyarakat yang menyaksikan cukup terhibur,” ungkapnya.
Di lokasi yang sama, Michael Ciok mengatakan Liga Daster telah diagendakan menjadi kegiatan rutin setiap tahun sebagai hiburan dalam memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Menurut Ciok, peserta turnamen tidak hanya pemain lokal, tetapi juga sejumlah mantan pemain yang pernah merasakan atmosfer kompetisi Liga Indonesia.
“Kami sudah agendakan bahwa turnamen sepak bola Liga Daster ini digelar tiap tahun. Pesertanya ada yang mantan pemain liga maupun pemain lokal yang ada di Pondok Aren,” ujarnya.
Ciok menilai, bermain sepak bola menggunakan daster memberikan sensasi berbeda. Pemain yang biasanya terlihat lincah justru mendadak kesulitan dalam bergerak.
“Kita ingin masyarakat di sini terhibur. Karena kan beda ketika mereka tampil resmi dengan bermain menggunakan daster. Jadi sangat menghibur, karena gerakannya jadi terbatas bahkan mereka sering jatuh bangun,” katanya.
Alhasil, Liga Daster 2026 bukan sekadar soal siapa yang menjadi juara. Di lapangan DGR, untuk sementara urusan gaya, kegagahan dan otot harus dikesampingkan.
Sebab, di turnamen ini, yang penting bukan siapa paling gagah, tetapi siapa paling pede memakai daster dan paling kuat bertahan tanpa nyungsep di lapangan.











