Scroll untuk baca Berita

Pasang Iklan, Advertorial dan Kirim Release, click here
Daerah

Imbas Sampah Plastik Merajalela, Daging Kurban di Tangsel Dikemas Besek Bambu

6
×

Imbas Sampah Plastik Merajalela, Daging Kurban di Tangsel Dikemas Besek Bambu

Sebarkan artikel ini
Daging kurban yang diterima warga masih menggunakan plastik kresek warna putih.

TANGSEL, detak.co.id-Sampah plastik yang kian merajalela menjadi perhatian serius Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel). Menyikapi persoalan tersebut, Pemkot Tangsel menginisiasi perayaan Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 Hijriah dengan konsep ramah lingkungan, salah satunya melalui penggunaan besek bambu sebagai kemasan daging kurban.

Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, menegaskan kebijakan ini bertujuan menekan volume sampah plastik sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.

“Benar. Besok, daging kurban yang dibagikan akan dikemas menggunakan besek bambu,” ungkap Benyamin, Rabu (26/5/2026).

Menurutnya, Pemerintah Kota Tangsel telah mendistribusikan besek bambu ke sejumlah titik pelaksanaan kurban, di antaranya Masjid Al I’tishom di Pusat Pemerintahan Kota Tangsel, Islamic Center Masjid Baiturrahmi, serta Yayasan Daarul Hikmah.

Ia juga mengimbau seluruh panitia kurban di wilayah Tangsel untuk mengikuti langkah tersebut. “Besek bambu ramah lingkungan dan tidak menambah volume sampah plastik di Kota Tangsel,” katanya.

Benyamin menjelaskan, limbah bambu memiliki waktu urai yang relatif singkat. Jika terpapar hujan dan panas, bambu dapat terurai dalam waktu kurang dari dua tahun. Bahkan, dalam kondisi pengomposan tertimbun tanah, limbah bambu bisa terurai secara alami hanya dalam kurun waktu sekitar dua bulan.

“Oleh karena itu, menjelang Idul Adha ini saya mendorong penggunaan besek bambu,” jelasnya.

Selain ramah lingkungan, besek bambu juga masih memiliki nilai guna setelah dipakai untuk mengemas daging kurban. Warga dapat memanfaatkannya kembali sebagai wadah penyimpanan bahan pangan di dapur, seperti bawang merah, bawang putih, maupun aneka rempah-rempah.

Benyamin menyebutkan, pihaknya telah menyalurkan sedikitnya 1.000 besek bambu ke tiga lokasi penyembelihan dan penyaluran hewan kurban. Ia pun menegaskan agar panitia Idul Adha tidak lagi menggunakan kantong plastik kresek untuk mengemas daging kurban.

“Insya Allah, pada Lebaran Haji tahun depan jumlah besek bambu akan ditambah. Harapannya, ini menjadi perhatian serius karena limbah plastik membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai,” tuturnya.

Ia menambahkan, berdasarkan kajian ilmiah, limbah plastik diperkirakan baru dapat terurai dalam rentang waktu 10 hingga 500 tahun. Kondisi ini terlihat nyata dari gunungan sampah di berbagai Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang didominasi oleh sampah plastik.

“Dan sektor rumah tangga menjadi penyumbang sampah terbesar setiap harinya,” tegas Benyamin.

Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat, sepanjang tahun 2025 timbulan sampah nasional mencapai 18.440.197,64 ton per tahun. Data tersebut dihimpun dari 183 kabupaten/kota dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Dari jumlah itu, hanya 35,60 persen sampah yang dikelola secara terintegrasi, sementara 64,40 persen belum terkelola dengan baik.
Sampah yang terkelola tercatat sebanyak 6.244.761,62 ton per tahun atau 33,86 persen, sedangkan 66,14 persen lainnya tidak terkelola.

Adapun sampah yang masuk ke TPA mencapai 8.771.634,8 ton per tahun, dengan 65,78 persen masih dibuang secara terbuka (open dumping) dan hanya 34,22 persen yang dikontrol.
Berdasarkan sumbernya, sektor rumah tangga menyumbang sampah terbesar, yakni 6.070.953,76 ton per tahun atau 56,84 persen.

Disusul pasar sebesar 1.486.645 ton per tahun (13,92 persen), sektor perniagaan 820.432,41 ton per tahun (7,68 persen), fasilitas publik 686.262,05 ton per tahun (6,43 persen), serta sektor lainnya sebesar 697.456,6 ton per tahun atau 6,53 persen.