BOGOR, detak.co.id — Di tengah banyaknya pelaksanaan qurban yang berlangsung rutin setiap tahun, Festival Qurban MIAN 1447 H hadir membawa sesuatu yang berbeda: lebih tertata, lebih profesional, dan menyentuh sisi kemanusiaan yang jarang terekspos.
Digelar oleh Yayasan Syiar Asy Syisauky bersama Ma’had Imam An Nawawi (MIAN) Cisauk dan komunitas Cisauk Mengaji, kegiatan ini sukses menghadirkan wajah qurban yang bukan hanya identik dengan penyembelihan hewan, tetapi juga tentang perjuangan, pengorbanan, edukasi, dan pelayanan umat.
Mengusung tema kuat “Ini Tentang Taqwa, Bukan Sembelihan Biasa”, Festival Qurban MIAN berlangsung di kawasan Wisata Telaga Sindur, Gunung Sindur, Bogor, Rabu (27/5/2026).
Sebanyak 37 hewan qurban terdiri dari 2 ekor sapi dan 35 kambing/domba disembelih dalam kegiatan tersebut. Salah satu sapi berbobot 370 kilogram menjadi perhatian tersendiri dalam prosesi penyembelihan yang dilakukan sesuai syariat oleh tim JULEHA (Juru Sembelih Halal). Seluruh hewan qurban juga dipastikan telah melalui pemeriksaan kesehatan.
Namun angka-angka itu bukan poin utama yang membuat kegiatan ini menarik perhatian.
Festival Qurban MIAN justru menjadi sorotan karena dijalankan oleh para santri yang sebagian besar merupakan pekerja profesional dari berbagai bidang pekerjaan. Mereka rutin belajar ilmu syariat setiap Ahad pagi di MIAN Cisauk, lalu turun langsung mengimplementasikan ilmu fiqih qurban dalam sistem kerja nyata yang rapi dan terstruktur.
Mulai dari pengelolaan hewan, penyembelihan, pencacahan daging, pengemasan, hingga distribusi dilakukan dengan pola kerja sistematis layaknya manajemen profesional.
Operasional kegiatan, Rizqi Al Barkah, mengatakan bahwa qurban tahun ini memang dirancang dengan pendekatan yang lebih efektif dan efisien tanpa menghilangkan ruh ibadah.
“Kegiatan ini dilaksanakan oleh santri MIAN yang berlatar belakang pekerja profesional. Mereka belajar fiqih qurban, lalu mengimplementasikan langsung ilmunya di lapangan. Semua alur kerja disusun sistematis agar ibadah qurban berjalan profesional, efektif, dan tetap sesuai syariat,” jelasnya.
Tak hanya itu, panitia juga memanfaatkan sistem pemesanan hewan qurban berbasis website khusus sebagai bentuk adaptasi teknologi dalam pelayanan ibadah.
Di sisi lain, kegiatan ini juga melibatkan relawan muda dan anak-anak sebagai sarana edukasi tentang nilai pengorbanan, kerja sama tim, dan kepedulian sosial sejak dini.
Sebanyak 31 relawan dan panitia terlibat aktif dalam kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga sore tersebut. Tantangan terbesar tahun ini adalah lokasi penyembelihan yang cukup jauh dari domisili para santri MIAN Cisauk.
Meski demikian, semangat para relawan tidak surut. Bahkan salah satu relawan santri sempat mengalami musibah dalam perjalanan menuju lokasi kegiatan.
Ketua panitia sekaligus Mudir MIAN Cisauk, Oka Wijaya Putra, menyebut bahwa momen tersebut justru semakin memperlihatkan makna sesungguhnya dari ibadah qurban.
“Esensi sesungguhnya dari ibadah kurban adalah pengorbanan dan keikhlasan. Hal itu kami saksikan langsung hari ini, bukan hanya dari para shohibul qurban, tapi dari dedikasi luar biasa para santri dan relawan kami. Di balik kelancaran acara ini ada keringat, kerja keras, bahkan ada relawan santri yang sempat mengalami musibah dalam perjalanan menuju lokasi. Semangat ukhuwah dan pengorbanan inilah yang menjadi jiwa utama Festival Qurban MIAN tahun ini,” ujarnya.
Usai proses penyembelihan, sebanyak 750 paket daging qurban didistribusikan kepada masyarakat di wilayah Bogor hingga Tangerang, meliputi sekitar Ponpes As Salam Bin Baz 15 Ciseeng, Ponpes Mu’adz bin Jabal Palasari, Desa Suradita, serta area dakwah MIAN Cisauk.
Menariknya, panitia tidak membuat antrean pembagian massal. Seluruh paket daging diantarkan langsung ke rumah-rumah warga sehingga penerima manfaat cukup menunggu di rumah.
Metode ini mendapat respons hangat dari masyarakat sekitar.
Ustadz Aep, Mudir Ponpes Bin Baz 15 Ciseeng, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada para santri dan relawan MIAN Cisauk.
“Kami menyampaikan apa yang disampaikan warga. Kata mereka, terima kasih banyak, alhamdulillah tim dari Cisauk masih ingat kepada kita-kita yang di sini. Mereka sangat senang karena memang berharap mendapat bantuan hewan kurban dari pondok pesantren. Jazakumullahu khairan, semoga kurbannya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Barakallahu fiikum,” ungkapnya.
Festival Qurban MIAN 1447 H menjadi gambaran bahwa qurban hari ini bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menghadirkan nilai taqwa, profesionalisme, pelayanan umat, dan semangat pengorbanan dalam bentuk nyata.
Di tengah era modern, para santri MIAN Cisauk menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya bisa dilakukan di mimbar, tetapi juga lewat kerja nyata, pelayanan sosial, dan ketulusan membantu masyarakat.





















