detak.co.id TANGSEL-DPRD Kota Tangerang Selatan (Tangsel) bersama pemerintah daerah aetempat kembali menggelar rapat koordinasi untuk membahas progres penanganan sampah. Rapat ini merupakan agenda lanjutan yang telah beberapa kali dilakukan guna memastikan pengelolaan sampah berjalan efektif.
Ketua DPRD Kota Tangsel, Abdul Rasyid, mengatakan persoalan sampah saat ini menjadi isu yang cukup krusial sehingga DPRD terus melakukan pengawasan dan meminta laporan perkembangan dari Pemkot Tangsel.
“Ini sudah kesekian kalinya kami meminta penjelasan terkait penanganan sampah. DPRD terus memonitor seluruh perkembangannya, dan hari ini pemerintah daerah sudah menyampaikan progresnya,” kata Ocil, sapaan Abdul Rasyid kepada wartawan di Gedung DPRD Kota Tangsel, Rabu (28/1/2026).
Dalam rapat tersebut, DPRD juga meminta penjelasan mengenai pengiriman sampah ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cilowong di Kota Serang, termasuk jumlah tonase sampah yang dapat diangkut dari Tangsel.
Selain itu, DPRD turut menyoroti penanganan sampah di tingkat hulu agar seluruh program dapat berjalan efektif. “Kami ingin memastikan seluruh rencana aksi yang disusun Pemkot Tangsel benar-benar berjalan. Progresnya sudah terlihat, meskipun tantangannya masih cukup banyak,” jelas Ocil.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan, menjelaskan bahwa rapat koordinasi tersebut merupakan tindak lanjut atas jawaban Wali Kota Tangsel kepada DPRD terkait progres penanganan sampah, termasuk kerja sama pengelolaan sampah antar daerah.
Pilar mengungkapkan, saat ini Pemkot Tangsel telah mampu mengirimkan sekitar 200 ton sampah per hari ke TPA Cilowong. “Insya Allah, sebelum Lebaran Idul Fitri, pengiriman sampah bisa ditingkatkan hingga 500 ton per hari,” ujarnya.
Kerja sama antara Pemkot Tangsel dan Pemkot Serang direncanakan berlangsung hingga tahun 2029. Pemkot Tangsel juga memberikan dukungan kepada Pemkot Serang, mulai dari pembangunan akses jalan menuju TPA, pembangunan fasilitas pendukung, hingga penataan turap di area TPA.
Selain itu, Pemkot Tangsel terus menggencarkan program bank sampah dan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) dengan melibatkan masyarakat. Pilar juga menyampaikan bahwa proses pembebasan lahan di TPA Cipeucang saat ini masih berjalan.
“Untuk penanganan di hulu, kami terus mendorong keterlibatan masyarakat melalui bank sampah, budidaya maggot, serta pelatihan pengelolaan sampah,” ujarnya.
Upaya tersebut dilakukan sambil menunggu pembangunan Material Recovery Facility (MRF) yang saat ini masih dalam tahap persiapan. MRF nantinya berfungsi sebagai fasilitas pemilahan dan pencacahan sampah organik dan nonorganik, yang ditargetkan mulai berjalan pada triwulan kedua atau ketiga tahun ini.
“Semua langkah kami lakukan secara paralel. Yang terpenting, jangan sampai saat TPA Cipeucang ditutup, sampah di masyarakat tidak tertangani dengan baik,” pungkas Pilar.










